ANALISIS PESAN DAKWAH DALAM KOLOM
“OASE” PADA HARIAN SUARA MERDEKA EDISI BULAN AGUSTUS 2017
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Sebuah pesan dakwah dizaman modern seperti sekarang bukan
hanya melalui mimbar dan pangung melaikan melalui perkembangan
teknologi informasi yang begitu
pesat, menjadikan informasi kini bukan hanya sebatas kebutuhan melainkan juga
dapat menjadi sumber kekuasaan.[1] Hal ini
dilatar belakangi dengan anggapan masyarakat bahwa siapa yang menguasai
informasi dialah penguasa masa depan dan hal ini terbukti.[2] Sumber
kekuasaan kini bukanlah lagi harta di tangan segelintir orang, melainkan sebuah
informasi di tangan banyak orang.
Era informasi yaitu era di mana manusia disadarkan kepada berbagai informasi yang komplit dan
multidimensional, baik itu informasi berbentuk lisan maupun informasi berbentuk
tulisan. Hal ini tidak dapat disangkal lagi bahwa informasi merupakan kebutuhan
pokok bagi sebagian orang, karena dapat menghilangkan ketidakpastian walaupun
terkadang sebuah informasi menjadi sesuatu hal yang menakutkan, karena dapat
menimbulkan sebuah kesedian atau kesusahan.
Berkaitan
dengan hal tersebut, Islam
sebagai agama yang responsif dengan keadaan dan perubahan, sudah semestinya
umat Islam (muslim) terutama dai
melakukan perubahan terhadap dakwah Islam yang dipahami sebagai proses penyampaian agama
Islam (ini berarti menyampaikan informasi) terhadap umat manusia. Istilah dakwah di dalam Al-Qur’an diungkapkan dalam bentuk fi’il dan mashdar. Al-Qur’an menggunakan kata dakwah untuk mengajak kepada
kebaikan yang disertai dengan resiko masing-masing pilihan. Dalam Al-Qur’an,
dakwah dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti
mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka atau
kejahatan. Disamping itu, ada ayat-ayat yang menjelaskan istilah dakwah dalam konteks yang
berbeda. Hal itu dapat dilihat dari hasil penelitian Dzikron Abdillah yang mencatat
kata dakwah di dalam Al-Qur’an diungkapkan kira-kira 198 kali yang tersebar
dalam 55 surat (176 ayat).[3]
Sebagai suatu proses, dakwah
tidak hanya merupakan usaha menyampaikan saja, tetapi merupakan usaha mengubah way
of thinking, way of feeling, way of life, manusia sebagai sasaran dakwah
kearah kualitas kehidupan yang lebih baik.
Dengan berpedoman pada
kaidah al-muhafazhah ala al-qadim ash-shalih wal-‘akhdzu bi al-jadid
al-ashlah (melestarikan tradisi yang lama yang baik dan mengambil tradisi
baru yang lebih baik), dakwah Islam perlu menggunakan alat-alat komunikasi dan
informasi modern dalam menerapkan metode dan media dakwah tanpa meninggalkan
metode lama yang lebih baik, sehingga pesan dakwah Islam dapat mencapai sasaran
yang tepat.
Maraknya media sebagai
sarana komunikasi massa dan alat pembentuk opini publik pada era informasi
sekarang ini, para mubaligh, aktivis dakwah, dan umat Islam terkena kewajiban
secara syar’i melakukan dakwah bi
al-lisan, bi al-hal dan bi al-qalam. Para juru dakwah dapat memanfaatkan
berbagai media yang ada untuk mengembangkan informasi dakwah.
Salah satu media untuk
berdakwah secara bi al-qalam yaitu
media cetak, seperti surat kabar, majalah, bulletin dan lain sejenisnya.
Keistimewaan yang dimiliki oleh media ini yang tidak dimiliki oleh media lain
yaitu bahwa media ini bisa dinikmati atau dibaca berulang kali sehingga
benar-benar bisa mempengaruhi sasarannya.
Salah satu media cetak yang memberikan ruang atau rubrik khusus tentang
ke-agamaan adalah Suara Merdeka. Sebagai salah satu media massa cetak yang
sudah popular dikalangan masyarakat umum di wilayah Jawa Tengah, Suara Merdeka
memiliki rubrik “OASE” yang terbit setiap hari Jum’at. Rubrik atau kolom
tersebut biasa diisi oleh penulis profesional di luar tim redaksi.
Untuk itu penulis tertarik
untuk mengkaji isi pesan dakwah dalam media cetak Suara Merdeka. Pesan dakwah merupakan salah satu unsur dari aktifitas
dakwah disamping adanya unsur da’i, mad’u, dan media serta metode. Adapun arti
perkata dari jenis pesan dakwah yaitu, yang pertama jenis berarti ragam, macam,
marga dan lain lain. Yang kedua pesan berarti informasi, pemberitahuan atau
inti sari dari suatu pembicaraan yang lebar. Yang ketiga dakwah yaitu ajakan
atau seruan. Menurut istilah (terminologi) definisi dakwah oleh Hamsah Ya’kub,
dalam bukunya “Publisistik Islam” memberikan pengertian bahwa dakwah adalah
mengajak manusia dengan hikmah bijaksana untuk mengikuti petunjuk Allah dan
Rasul-Nya.[4]
Peneliti mengfokuskan pada kolom “OASE” edisi bulan Agustus 2017, karena pada bulan Agustus bertepatan dengan momentum hari
ulang tahun Republik Indonesia (RI) atau hari kemerdekaan serta menjelang hari
raya Idul Adha. Sehingga penulis mengambil judul “Analisis Pesan Dakwah dalam Kolom “OASE” pada Harian Suara Merdeka Edisi Bulan Agustus 2017”.
Kata analisis di sini dapat diartikan sebagai penyelidikan terhadap suatu
peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang
sebenarnya.[5] Selain
itu, secara spesifik, analisis diartikan sebagai kajian yang dilaksanakan
terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam.[6]
- Penegasan Istilah
1.
Analisis
Analisis dalam kamus bahasa Indonesia berarti
penyelidikan terhadap sesuatu peristiwa (kerangka, perbuatan, dan sebagainya)
untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkara, dan
sebagainya).[7]
2.
Pesan Dakwah
Secara etimologis, dakwah berasal dari bahasa Arab,
yaitu da’a, yad’u, da’wan, du’a, yang
diartikan sebagai mengajak/menyeru, memanggil, seruan, permohonan, dan
permintaan.[8]
Ali Mafudz memberi
pengertian dakwah sebagaimana yang dikutip Wahyu Ilaihi, yakni;[9]
“Mendorong
[memotivasi] manusia untuk melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta
memerintah mereka berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar agar
mereka memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.”
3.
Kolom
Kolom merupakan opini singkat seseorang dalam
menyoroti suatu permasalahan atau keadaan yang terdapat dalam masyarakat dengan lebih banyak menekankan aspek
pengamatan dan pemaknaan.[10]
4.
Harian
Kata Harian alam kamus bahasa Indonesia berarti
Surat Kabar yang terbit tiap-tiap hari.[11]
- Fokus Penelitian
Fokus penelitian kualitatif
adalah fokus kajian penelitian atau pokok soal yang hendak diteliti, mengandung
penjelasan mengenai apa yang menjadi pusat perhatian dan hal yang akan dibahas
secara mendalam dan tuntas. Adapun fokus penelitian ini adalah pesan dakwah
dalam kolom “OASE” pada Harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
- Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1.
Apakah ada pesan dakwah dalam kolom “OASE “ pada surat kabar harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017 ?
2.
Bagaimana pesan dakwah dalam kolom
“OASE “ pada surat
kabar harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus
2017 ?
- Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah
yang sudah dipaparkan, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.
Untuk mengetahui pesan dakwah dalam
kolom “OASE “ surat kabar harian Suara Merdeka pada edisi bulan Agustus 2017.
2.
Untuk mendeskripsikan pesan dakwah dalam kolom “OASE “ surat kabar harian Suara Merdeka
pada edisi bulan Agustus
2017.
- Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini
adalah :
1.
Manfaat teoritis
Penelitian
ini diharapkan bisa memperkaya khasanah keilmuan dakwah khususnya tentang cara
penyampaian dakwah bi al- qalam di
surat kabar. Dan bisa memberikan tambahan informasi dan pengetahuan khususnya
dalam bidang ilmu komunikasi dan penyiaran islam yang nantinya bisa digunakan
untuk mengembangkan teori dan metode penelitian dalam bidang Komunikasi dan
Penyiaran Islam (KPI).
2.
Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan
oleh pembaca skripsi sebagai bahan perbandingan menyusun materi dakwah untuk dai, masyarakat, dan pelaksana PPL (praktek
pekerja lapangan).
- Tinjauan Pustaka
Supaya penelitian ini
menghasilkan sebuah informasi dan pengetahuan yang maksimal, obyektif, serta
menghindari terjadinya plagiasi maka penulis mengadakan penelusuran terhadap
penelitian-penelitian yang relevan dan studi pustaka terkait penelitian penulis
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan saudara
Yayun Alutfiyanto tahun 2009 yang berjudul “Analisis Pesan Dakwah dalam Rubrik Teladan Majalah Ma’arif (Edisi Januari 2002-Juni 2005)”. Dalam
penelitian tersebut, peneliti menggunakan metode analisis deskriptif untuk
prosedur pemecahan yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan
subyek atau obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang
nampak. Dengan menggunakan analisis deskriptif isi materi akan digambarkan
secara jelas dan materi dakwah akan
diklasifikasikan ke dalam tiga materi yaitu akidah, akhlak dan syariah. Hasil
penelitian pesan dakwah tersebut adalah bahwa dalam majalah Ma’arif “Rubrik Teladan” pada garis besarnya lebih
menonjolkan pesan akhlak.[12]
2. Penelitian yang dilakukan oleh saudari Nurul Fatimah tahun 2009 yang
berjudul “Analisis Terhadap Materi Dakwah Dalam
Rubrik Tausiyah Majalah Aham (Edisi 69-78 1429 H)”. Penelitian tersebut
bertujuan untuk mengetahui materi dakwah yang terdapat yang ada dalam rubrik
“tausiyah”, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan analisis isi (content analysis) dan
memilih paragraf sebagai suatu kajian (unit of analysis) kemudian
diklasifikasikan ke dalam tiga pokok materi Islam yaitu aqidah, syariah, akhlak
dan peneliti mengambil kebijakan dengan memasukkan materi yang lain misalnya
filsafat, tasawuf dan lain-lain. Sedangkan untuk teknik analisis data peneliti
menggunakan semiotik deskriptif dengan berfikir secara induktif untuk mengambil
kesimpulan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa materi-materi Islam dam
rubrik “Tausiyah” majalah Aham edisi
69-78 1429 H terbagi ke dalam dua kategori yaitu : tasawuf dan syariah.
Kategori tasawuf muncul 8 kali dan kategori syariah muncul 1 kali.[13]
3. Penelitian yang dilakukan oleh saudari Nur Setyaningsih tahun 2007 yang
berjudul “Analisis Pesan Dakwah Dalam Kolom “Nasihat” Majalah Nabila Tahun
2005”. Dalam skripsi tersebut, Nur Setyaningsih menggunakan jenis penelitian
kualitatif dengan pendekatan semiotika. Analisis semiotik berguna untuk menarik
kesimpulan makna pesan yang terdapat dalam kolom nasihat majalah Nabila. Pada
penelitian tersebut materi dakwah digolongkan ke dalam tiga aspek yaitu akhlak,
aqidah dan Syariah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa materi akhlak
adalah materi yang paling menguasai dalam kolom nasihat majalah Nabila.[14]
Ketiga tinjauan pustaka di
atas, digunakan peneliti untuk mendukung teori-teori yang digunakan peneliti
dalam penelitian dan sebagai bahan pertimbangan atau rujukan dalam menentukan
langkah penelitian. Perbedaan dari penelitian ini
dengan penelitian terdahulu sangat tajam terutama dalam pemilihan objek serta
metode penelitian. Selain itu juga sebagai perbandingan agar dapat
diketahui kelemahan dan kelebihan dari masing-masing jenis penelitian yang
menggunakan metode dan analisis berbeda dalam mengalisis pesan dakwah kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
- Metode Penelitian
1.
Jenis penelitian
Penelitian
ini adalah jenis penelitian kualitatif
deskriptif. Penelitian kualitatif adalah
kategori-kategori subtansi dari makna-makna, atau lebih tepatnya adalah
interpretasi-interpretasi terhadap gejala yang diteliti yang pada umumnya
memang tidak dapat diukur dengan bilangan. Sehingga penelitian kualitatif
sebenarnya bersifat interpretatif, setidaknya sampai tingkat tertentu memiliki nuansa
subjektif.[15]
Sebagian penelitian komunikasi kualitatif justru lebih dimaksud untuk membangun teori komunikasi yang sudah ada dan
bukan untuk menguji teori tersebut. Sehingga temuan-temuan penelitian
komunikasi kualitatif biasanya bukan dipresentasikan sebagai suatu generalisasi
(berlaku umum), melainkan lebih terbatas pada kasus atau konteks yang diteliti.[16]
Selain menggunakan metode penelitian kualitatif
deskriptif, dalam penelitian ini juga menggunakan pendekatan analisis semiotic MAK Halliday,[17] untuk
mengungkap makna dibalik tanda atau sign sebuah teks. Dalam semiotika sosial model M.A.K Halliday ada tiga unsur yang menjadi
pusat perhatian penafsiran teks secara kontektual, yaitu medan (field), pelibat (tenor), dan sarana (mode),
seperti yang terlihat dalam tabel berikut:
Tabel: Unsur Semiotika Sosial M.A.K Halliday
|
Unsur
|
Keterangan
|
|
Medan Wacana (field of
discourse)
|
Menunjuk pada hal yang terjadi: apa yang dijadikan wacana oleh
pelaku (media massa) mengenai sesuatu yang sedang terjadi di lapangan peristiwa
|
|
Pelibat wacana (tenor of
discourse)
|
Menunjuk pada orang-orang yang dicantumkan dalam teks (berita):
Sifat orang-orang itu, kedudukan dan peranan mereka. Dengan kata lain, siapa
saja yang dikutip dan bagaimana sumber itu digambarkan sifatnya.
|
|
Sarana wacana (mode of
discourse)
|
Menunjuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa: bagaimana
komunikator (media massa) menggunakan gaya bahasa untuk menggambarkan medan
(situasi) dan pelibat (orang yang dikutip) misalnya apakah penggunaan bahasa
yang vulgar atau malah menggunakan bahasa yang diperhalus atau hiperbolik
atau eufemiistik.
|
Sumber: Alex Sobur (2009:148), Analisis Teks Media: Suatu
Pengantar
2.
Sumber data
Pada
dasarnya penelitian adalah kegiatan untuk mencari kebenaran suatu masalah. Upaya mencari kebenaran ini melalui kegiatan pengumpulan fakta-fakta/data,
menganalisisnya, menginterpretasikan dan menarik kesimpulan.[18] Maka sumber data menjadi bagian penting dalam sebuah penelitian. Sumber data dalam penelitian ini meliputi :
a.
Data primer: data yang berupa
kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
b.
Data Sekunder: Studi
kepustakaan, yaitu sumber-sumber tertulis
seperti buku, arsip, artikel, surat kabar, internet yang berkaitan dengan
penelitian.
3.
Metode Pengumpulan data
Metode
pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan peneliti
dalam mengumpulkan data.[19] Dalam Penelitian ini peneliti menggunakan metode dokumentasi. Tujuannya untuk mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan
interpretasi data.
Adapun
bentuk dokumentasi dalam penelitian ini adalah kumpulan materi kolom “OASE”
dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus
2017. Hal inilah yang nantinya menjadi bahan analisis
penulis. Selain metode dokumentasi peneliti juga menggunakan
studi pustaka yang bertujuan untuk melakukan kajian teoritis terkait dengan
topik penelitian seperti kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
4.
Metode analisis data
Penelitian
ini adalah jenis penelitian kualitatif yaitu penelitian yang menggunakan cara
berpikir induktif[20].
Karena itu peneliti menggunakan analisis semiotika
sosial M.A.K Halliday
Gambaran untuk meneliti pesan dakwah yang
ada.
Gambar metode analisis semiotika- Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagian awal
Mencakup Halaman
Judul, Halaman Nota Persetujuan
Pembimbing, Halaman Pengesahan, Pernyataan, Motto, Persembahan, Kata Pengantar, Abstraksi, Daftar Isi.
2.
Bagian isi
Bab I berisi Pendahuluan yang terdiri dari beberapa sub judul yaitu: Latar
Belakang Masalah, Fokus Penelitian, Rumusan Masalah, Tujuan
Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan Skripsi.
Bab II berisi Landasan Teori yang
terdiri dari Dalam bab ini akan dibahas tentang dakwah, esensi dakwah,
unsur-unsur dakwah, media dakwah, dan surat kabar sebagai media dakwah, serta
metode analisis semiotoka M.A.K Halliday.
Bab III berisi Gambaran Umum tentang kolom
“OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus
2017.
Bab IV berisi Analisis
pesan dakwah kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
Bab V berisi Penutup yang meliputi Kesimpulan dan Saran.
3.
Bagian akhir
Pada bagian ini dapat dicantumkan pula daftar pustaka,
lampiran-lampiran dan daftar riwayat pendidikan penulis.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Sekilas Tentang Dakwah
1. Pengertian Dakwah
Islam adalah agama yang diturunkan kepada seluruh manusia melalui
Rasulullah. Kesempurnaan dan kesungguhan ajaran Islam tidak sekedar sebagai
tuntunan hidup yang hanya untuk diketahui, dibicarakan dan didengarkan tanpa
adanya pengamatan yang riil. Akan tetapi lebih dari itu untuk diamanatkan dan
dapat dikendalikan sikap, tindakan, perbuatan dan cara hidup. Agar Islam tetap
menjadi tuntunan hidup manusia diperlukan adanya sebuah kegiatan yang disebut
dakwah. Menyampaikan kebenaran-kebenaran ajaran Islam merupakan tanggung jawab
kita untuk menyampaikan kebenaran Islam sesuai dengan misinya sebagai rahmatan
lil alamin.[21]
Berpijak dari itulah maka sebelum dakwah ini dibahas secara mendetail,
peneliti akan terlebih dahulu memberikan pengertian dakwah sebagai berikut:
a.
Arti
Dakwah Menurut Bahasa
Kata "Dakwah" berasal dari bahasa Arab yaitu sebagai
bentuk masdar dari kata kerja yang berarti do'a, seruan, panggilan,
ajakan, undangan dan permintaan. Dakwah yang semula hanya berarti memanggil
atau mengajak kepada sesuatu, dalam pengertian khusus berarti mengajak ke jalan
Tuhan (Allah). Dakwah sebagai ajakan adalah seruan untuk mengikuti dan
mengamalkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Bagi yang belum Islam diajak menjadi
muslim dan bagi orang-orang yang sudah Islam diajak menyempurnakan
keislarnannya. Dakwah dalam arti ini dapat dijumpai dalam Al-Qur’an surat
al-Baqarah ayat 23 yang berbunyi:
"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan lentang Al-Qur’an
yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad),buatlah satu surat (saja) yang
semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu
orang-orang yang benar".
b.
Arti
Dakwah Menurut Istilah
Adapun pengertian dakwah secara istilah atau terminologi ada
beberapa pakar ilmu dakwah yang telah mencoba untuk merumuskan istilah
tersebut, diantaranya perumusan yang dikemukakan peneliti antara lain:
a)
Pendapat Syekh Ali
Mahfudz yang dikutip oleh Aminuddin Sanwar, yang berbunyi: "Mengajak manusia
untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat balk
dan melarang mereka dari perbuatan yang jelek agar mereka mendapat kebahagiaan
dunia dan Akhirat".[22]
b)
Menurut Jamaluddin
Kafie "Dakwah adalah suatu sistem kegiatan dari seseorang, sekelompok atau
golongan umat Islam sebagai aktualisasi imaniah yang dimanifestasikan dalam
bentuk seruan, ajakan, panggilan dan do'a yang disampaikan dengan ikhlas dan
dengan menggunakan metode, system dan teknik tertentu agar menyentuh Qolbu dan Fitrah
seseorang, keluarga, kelompok dan masyarakat supaya manusia dapat mempengaruhi
tingkah lakunya untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu terwujudnya tata
kehidupan dan realitas hidup yang Islami".[23]
c)
H. Endang S. Anshori,
mengatakan sebagai berikut: "Arti dakwah dalam makna terbatas yaitu
menyampaikan Islam kepada manusia secara lisan maupun secara tulisan ataupun
secara lukisan. Sedangkan arti dakwah dalam makna luas yaitu penjabaran,
penerjemahan dan pelaksanaan Islam dalam perikehidupan dan penghidupan manusia
termasuk didalamnya politik, ekonomi, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan,
kesenian, kekeluargaan, dan sebagainya.".[24]
d)
Muhammad Nastir,
dalam tulisannya yang berjudul fungsi dakwah Islam dalam rangka perjuangan
mendefinisikan dakwah sebagai: "Usaha-usaha menyeru dan menyampaikan
kepada perorangan manusia dan seluruh umat konsepsi Islam tentang pandangan dan
tujuan hidup manusia di dunia ini yang meliputi; amar ma'ruf nahi mungkar
dengan berbagai macam media dan cara yang diperbolehkan akhlaq dan membimbing
pengalamannya dan perikehidupan perseorangan, perikehidupan rumah tangga dan
perikehidupan bermasyarakat serta perikehidupan bernegara.[25]
e)
Thoha Yahya Umar:
Definisi dakwah menurut Islam adalah: "Mengajak manusia dengan cara
bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk
kemaslahatan atau kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat".[26]
f)
Dzikron Abdillah,
mendefinisikan dakwah: "Semua usaha untuk menyebarluaskan Islam dan
merealisasikan ajarannya ditengah masyarakat dan kehidupannya agar mereka
memeluk agama Islam dan mengamalkannya dengan baik.[27]
g)
Ida Saidah Sakwan,
"Menyeru atau mengajak / memanggil kepada sekalian umat manusia untuk
memeluk agama Islam dengan kemauan hati mereka sendiri tanpa paksaan, menyuruh
umat Islam kepada sebagian lain untuk amar ma'ruf nahi mungkar, serta nasihat
menasihati antara seorang dengan yang lain sesama kaum muslimin".[28]
h)
H.M Arifin
mendefinisikan dakwah: "Sebagai suatu kegiatan ajakan bail (dalam bentuk
lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan
berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara kelompok agar timbul
dalam diri nya suatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengamatan
terhadap agama sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan adanya
unsure-unsur paksaan".[29]
Dari beberapa definisi tersebut diatas, meskipun terdapat
perbedaan dalam perumusan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a)
Dakwah
merupakan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar dan sengaja
b)
Usaha
yang dilakukan atau diselenggarakan itu berupa mengajak orang untuk beriman dan
mentaati perintah Allah SWT, amar ma'ruf atau perbaikan dan pembangunan
masyarakat dan nahi mungkar
c)
Usaha
tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan
kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat kelak yang diridloi oleh Allah SWT.
2. Esensi Dakwah
Islam adalah agama yang memandang setiap penganutnya sebagai Da'i
pada dirinya sendiri dan orang lain. Karena Islam tidak menganut adanya hirarki
religius, setiap muslim bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dihadapan
Allah SWT. Namun demikian, karena ajaran Islam bersifat universal dan ditujukan
kepada umat manusia, kaum muslimin mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa
ajarannya sampai kepada seluruh umat manusia disepanjang sejarah. Dalam bahasa
Islam tindakan penyebaran dan mengkomunikasikan pesan-pesan Islam ini merupakan
esensi dakwah.[30]
Salah satu upaya untuk memahami hakekat dakwah atau esensi
konsep-konsep adz- Dzikr, al-Amr, an-Nasihah, mau`dhoh hasanah, al-ghoyr dan
lain-lain. Dengan konsep-konsep dasar ini memungkinkan orang dapat memahami
hakekat dakwah yang sebenarnya (secara objektif) Iebih jelas dan menjadi dasar
bahwa setiap muslim dalam segala gerak tindakannya akan merefleksikan
dakwahnya.[31]
a.
Adz-
Dzikr
Artinya mengingatkan atau peringatan. Esensinya yakni penyampaian
peringatan supaya mereka mendapat petunjuk dari Allah SWT dan tidak sesat.
Setiap kurun waktu Allah SWT selalu menurunkan nabi-Nya sejak nabi adam as
sampai nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah:
"Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat
untuk menyerukan) sembahlah Allah SWT (.raja) dan jauhilah thaghut itu, maka
diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT dan
adapula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Makes
berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah kesudahan orang-orang yang
mendustakan (Rasul-rasul) "(QS.
An-Nahl: 36).
b.
Al-
Amr
Artinya perintah, esensinya adalah perintah yang ma'ruf dan benar dan perintah
untuk menjauhi yang mungkar dan batil. Perintah untuk menegakkan dan
merealisasikan hukum yang telah digariskan dan ditetapkan oleh Allah SWT yang
esensinya adalah untuk kebaikan juga kepentingan manusia.
Dakwah dalam arti amar ma'ruf nahi mungkar adalah syarat mutlak
bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup manusia. Ini adalah kewajiban sebagai
pembawa fitrah manusia selaku makhluk ijtima'i. Secara konseptual dalam Islam
tidak ada paksaan (QS. Al- Baqarah: 256):
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya
Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa
yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah
berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah
Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqarah: 256) (Departemen
Agama RI, 1978: 30)
Hal ini berarti bahwa tiap-tiap perintah atau larangan dapat atau
tidak wajib dikerjakan. Namun bila kita melanggar prinsip-prinsip hukum yang
telah ditetapkan oleh Allah SWT esensinya berarti kita (manusia) akan
kehilangan tujuan dan sia-sia tanpa makna serta kehilangan sikap hormat kepada
yang tinggi dan Islam.
c.
mau`dhoh hasanah
Artinya pengajaran/nasihat-nasihat yang baik menurut Abi Ja'far
ibn Farir Ath-Thabari dalam tafsirnya "Jami'ul Bayan", menjelaskan
bahwa mau'idhah hasanah nasihat-nasihat atau ceramah-ceramah yang indah yang
dijadikan Allah SWT sebagai hujjah kitabnya pada mereka. Esensinya adalah
mendidik dan mengajar manusia dengan cara yang baik dan benar (dengan pemaparan
moral dan rohani) yang berakar dari wahyu, agar mereka sadar dan insaf sesuai
dengan kecenderungan-kecenderungan fitrahnya yang asli yakni Islam. Dalam
dakwah mauidhoh hasanah
harus dikaitkan dengan hikmah dan mujadalah, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an
surat an-Nahl ayat 125:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan jalan
hikmah dan pelajaran yang balk dan bantahlah mereka dengan jalan yang baik."(QS.
an-Nahl :125).
Itu merupakan sebagai alternatif pertama ini dalam wujud
komunikasi melalui keyakinan intelektual dan rasional (al-Hikmah) dan pemaparan
moral dan ruhaniyah (al-Mauidhoh). Itu sebabnya "mauidhoh hasanah"
menempati posisi penting dalam dakwah, karena manusia memiliki realitas ganda
yakni bukan hanya sebagai makhluk al-Basyar yang menduduki posisi berada (being), namun juga sebagai
makhluk yang menduduki posisi menjadi (becoming) sebagai proses penyempurnaan
dalam rangka mencapai derajat yang paling tinggi di hadapan Tuhannya, atau
dengan kata lain manusia mempunyai dimensi ganda yakni dimensi ruhaniah dan
dimensi jasmaniah.
d.
Al
Washiyah
Artinya wasiat atau pesan, yakni memberi wasiat atau nasihat
kepada umat manusia agar menjalankan syariat Allah, kebenaran, takwa, dan
kebaikan.
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan jalan
hikmah dan pelajaran yang balk dan bantahlah mereka dengan jalan yang baik."(QS.
an-Nahl :125).
3. Tujuan Dakwah
Tujuan-tujuan umum harus dirumuskan dalam tujuan-tujuan yang lebih
operasional dan dapat dievaluasi keberhasilan yang telah dicapainya. Misalnya
tingkat keistiqomahan, tingkat keamanahan dan kejujuran, kurangnya angka
kemaksiatan, tingkat pengangguran dan lain sebagainya.
Tujuan ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan seluruh aktivitas
dakwah dapat diketahui dengan jelas kemana arahnya ataupun jenis kegiatan apa
yang mau dilaksanakan, kepada siapa berdakwah, dengan cara bagaimana dan
sebagainya sehingga tidak terjadi over-lapping antara juru dakwah yang
satu dengan yang lain hanya disebabkan karena masih umumnya tujuan yang hendak
dicapai.[32]
Jamaluddin Kafie[33] mengungkapkan beberapa
tujuan dakwah:
a. Tujuan hakiki Dakwah bertujuan langsung untuk mengajak manusia
mengenal Tuhannya dan mempercayai-Nya sekaligus mengikuti jalan petunjuknya.
b. Tujuan umum
Seruan kepada umat manusia untuk mengindahkan seruan Allah SWT dan
Rasulnya agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
c.
Tujuan
khusus
Dakwah menginginkan dan berusaha bagaimana membentuk tatanan
masyarakat Islam yang utuh dan komprehensif.
d.
Tujuan
urgen
Dakwah ingin mencetak manusia yang berakhlak yang secara eksis
dapat tercerm in dalam fakta hidup dan lingkungannya serta dapat mempengaruhi
jalan pikirannya.
e.
Tujuan
Insendental
Banyaknya problem manusia, dakwah menghendaki untuk dapat
meringankan beban manusia dengan jalan memberikan jalan keluar atau solusi
persoalan yang lurus berkembang atau memberi jawaban atas berbagai persoalan
yang telah dihadapi oleh setiap golongan manusia di segala ruang dan waktu.
Adapun tujuan yang tertinggi daripada usaha dakwah hanya
semata-mata mengharapkan dan mencari ridho Allah SWT. Secara materiil usaha
dakwah itu diarahkan kepada tujuan-tujuan yaitu antara lain:
a.
Menyadarkan
manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Karena hidup itu bukanlah semata-mata
untuk makan dan minum sebagaimana hidupnya binatang dan tumbuh-tumbuhan, akan
tetapi hidup manusia disamping dapat diartikan turun naiknya nafas dalam tubuh
jasmani melainkan lapisan kedua adalah cita-cita hidup karena kesadaran hidup
merupakan pertalian hari ini dengan hari yang lampau dan hari esok. Disinilah
terasa ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang manfaat dan ada yang
madhorot.
b.
Mengeluarkan
manusia dari kegelapan atau kesesatan menuju alam yang terang benderang dibawah
sinar petunjuk Ilahi, sehingga manusia memiliki hidup yang berarti. [34]
4. Unsur-Unsur Dakwah
Sebelum peneliti membahas materi pesan dakwah sebagai prolog peneliti
sebutkan unsur-unsur dakwah terlebih dahulu. Kreatifitas dakwah tidak terlepas
dari unsur-unsur dakwah karena dalam hal ini sangatlah diperlukan sebab
merupakan bagian yang sangat esensi dari dakwah yang sating berkaitan. Adapun
unsur-unsur dakwah Islam antara lain meliputi : subyek dakwah, obyek dakwah,
metode dakwah, media dakwah, dan materi dakwah.
a.
Subyek
dakwah
Yang dimaksud dengan subyek dakwah atau pelaku dakwah adalah orang
yang berusaha mengubah situasi kepada situasi yang sesuai dengan
ketentuan-ketentuan Allah baik secara individual maupun berbentuk kelompok
(organisasi), sekaligus sebagai pemberi informasi dan pembawa.
Subyek dakwah merupakan unsur terpenting dalam pelaksanaan dakwah,
karena sebagaimana dalam pepatah dikatakan "the man behind the gun"
maksudnya manusia sebagai pelaku adalah unsur yang paling penting dan
menentukan.
b.
Obyek
dakwah
Mad'u sebagai penerima dakwah (obyek dakwah) adalah seluruh umat
manusia tanpa terkecuali, baik pria maupun wanita, beragama maupun tidak
beragama, pemimpin maupun rakyat biasa. Seluruh manusia sebagai obyek dakwah
adalah karena hakekat diturunkannya agama Islam dan kerisalahan Rasulullah SAW.
Itu berlaku secara universal untuk manusia seluruhnya tanpa memandang pada
warna kulit, asal usul keturunan daerah tempat tinggal, pekerjaan lain-lain.
Oleh karena itu dakwah tertuju kepada mereka semua tanpa melihat tingkat, kebangsaan,
maupun golongan.
c.
Metode
dakwah
Metode dakwah adalah metode yang ditempuh oleh subyek di dalam
melaksanakan tugasnya (berdakwah). Sudah barang tentu di dalam berdakwah
diperlukan cara-cara tertentu agar tidak mencapai tujuan yang baik, untuk
dirinya dan melihat secara benar terhadap obyek dakwah dalam segala seginya.
Metode dakwah akan efektif bila di terapkan sesuai dengan kondisi
mad'unya. Sebagaimana telah ditegaskan dalam al qur'an surat An-Nahl 125
“Serulah (manusia)
kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berbantahlah
kepada mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk”
Berikut ini dikemukakan macam-macam metode dakwah (dakwah dalam
pengertian luas) yang mungkin dijadikan sandaran pilihan dalam melaksanakan
dakwah ditengah-tengah masyarakat. Metode ini sangat penting untuk mengantarkan
pada tujuan dakwah yang akan dicapai.
1). Metode ceramah
Ceramah adalah suatu teknik atau metode dakwah yang banyak
diwarnai oleh ciri karakteristik bicara oleh seorang Da'i atau mubalig pada
suatu aktivitas dakwah. Ceramah dapat pula bersifat propaganda, kampanye, berpidato,
khutbah, sambutan, mengajar dan sebagainya. metode ceramah sebagai suatu metode
atau teknik berdakwah tidak jarang digunakan oleh Da'i-Da'i ataupun para utusan
Allah dalam usaha menyampaikan risalahnya.
2). Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah menyampaikan materi dakwah dengan cara
mendorong sasarannya (obyek dakwah) untuk menyatakan sesuatu masalah yang
dirasa belum dimengerti dan mubalig/Da'inya sebagai seorang yang menjawab.
Metode ini dimaksudkan untuk melayani masyarakat sesuai dengan kebutuhannya.
3). Metode diskusi
Diskusi sebagai metode dakwah belum lazim digunakan oleh para Da'i
atau para panitia penyelenggara dakwah, karena banyak Da'i yang belum mengerti
tentang pengertian diskusi apa tujuan serta manfaat diskusi bagi kegiatan dakwah.
4). Metode propaganda
Propaganda berasal dari bahasa yunani "propagare"
artinya menyebarkan atau meluaskan. Dakwah dengan menggunakan metode propaganda
berarti suatu upaya menyiarkan Islam dengan cara mempengaruhi dan membujuk
massa dan persuasive dan bukan bersifat otoritati
5). Metode keteladanan
Metode keteladanan ini dikenal dengan istilah demonstration method
yakni sesuatu yang diberikan dengan cara memperlihatkan sikap gerak gerik,
kelakuan perbuatan dengan harapan dapat menerima, melihat, memperlihatkan, dam
mencontohkannya. Dakwah dengan metode keteladanan berarti suatu cara penyajian
dakwah dengan jalan memberikan keteladanan secara langsung, sehingga mad'u akan
tertarik untuk mengikuti apa yang akan didakwakan.
6). Metode Infiltrasi
Dakwah dengan metode infiltrasi ialah metode dakwah dimana
intisari agama disisipkan ketika memberikan keterangan, penjelasan, pelajaran,
kuliah, ceramah, pidato, dan sebagainya. Maksudnya bersama-sama dengan bahan
lain seorang Da'i memasukkan intisari jiwa agama kepada mad'u.
7). Metode Drama
Dakwah dengan menggunakan metode ini merupakan suatu cara
penyajian materi dakwah dengan menunjukkan dan mempertontonkan kepada mad'u
agar dakwah tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Hal berbeda dengan metode
infiltrasi karena bersifat umum, sedang drama lebih spesifik.
8). Metode Home Visit
Dakwah menggunakan metode ini dilakukan dengan cara kunjungan
kepada sesuatu obyek tertentu dalam rangka menyampaikan isi dakwah kepada
mad'u. termasuk berkunjung kerumah-rumah, menengok orang sakit, menjenguk orang
yang terkena musibah, ta'ziyah dan sebagainya.[35]
d. Media Dakwah
Media dilihat dari asal katanya (etimologi), berasal dari bahasa
latin yaitu "median'. yang berarti segala sesuatu dapat dijadikan sebagai
alat atau perantara untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan demikian media
dakwah adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat untuk perantara
untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Media dakwah selain berperan sebagai alat penghubung dakwah juga
sebagai suatu sistem yang terdiri beberapa komponen yang saling berkaitan,
bantu membantu dalam mencapai tujuan dakwah. Untuk menyampaikan ajaran Islam
kepada umat, dakwah dapat menggunakan berbagai media. Ada beberapa jenis media
dakwah, dan dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu lisan, tulisan, lukisan,
audio visual, dan akhlaq
a). Lisan, inilah media dakwah yang paling sederhana yang menggunakan
lidah dan suara, dakwah dengan media ini berbentuk pidato, ceramah, kuliah,
bimbingan, penyuluhan, dan sebagainya.
b). Tulisan, buku majalah, surat kabar, surat menyurat (korespondensi)
spanduk, flash-card, dan sebagainya.
c). Lukisan, gambar, karikatur, dan sebagainya.
d). Audio visual, yaitu alat dakwah yang merangsang indra pendengaran
atau penglihatan, dan kedua-duanya, televisi, film, slide, OHP, internet, dan
sebagainya.
e). Akhlak yaitu perbuatan nyata yang mencerminkan ajaran Islam dapat
dinikmati serta didengarkan oleh mad'u.
f). Media (terutama media massa) telah meningkatkan intensitas
kecepatan, jangkauan komunikasi dilakukan umat manusia begitu luas sebelum
adanya media massa seperti pers, radio, televisi, internet, dan sebagainya.
Bahkan dapat dikatakan alat- alat tersebut telah melekat tak terpisahkan dengan
kehidupan manusia di abad ini.
e. Pesan dakwah
Pada
dasarnya isi Al-Qur’an dan Al-Hadis merupakan kitab pedoman dan sumber
hukum-hukum syariat Islam,
maka ruang lingkup dakwah tidak bisa lepas dari kandungan isi keduanya. Di dalamnya membicarakan tentang seruan untuk
mengkaji alam semesta serta keimanan dan sisi kehidupan umat manusia. Sementara
itu, hadis Rasulullah Saw merupakan hikmah petunjuk kebenaran. Oleh karenanya,
materi dakwah Islam tidak terlepas dari kedua sumber tersebut, bahkan jika
tidak berpedoman dari keduanya (Al-Qur’an dan hadis) seluruh aktivitas dakwah
akan sia-sia dan dilarang oleh syari'at Islam.[36]
Adapun
muatan atau pesan
dakwah mencakup tiga bagian penting, yaitu masalah aqidah, syari’ah, dan
akhlak.[37]
Ketiga bagian tersebut dijabarkan menjadi beberapa aspek penting, meliputi:
1)
Aqidah (keimanan)
Dalam
ajaram Islam, aqidah menduduki posisi yang paling pertama dalam kehidupan
manusia. Aqidah adalah kepercayaan. Secara etimologi berasal dari kata al-Aqdu
yang berarti yakin. Sedangkan secara termonologi, terdapat dua pengertian
aqidah baik secara umum maupun khusus. ikatan, kepastian, penetapan,
pengukuhan, penguncangan dengan kuat dan juga berarti hukum yang benar seperti
keimanan dan ketauhidan kepada Allah. Percaya kepada Malaikat, Rasul, Kitab,
Qadha dan Qadar serta hari akhir. Secara khusus aqidah bersifat keyakinan
bathiniyah yang mencakup rukun iman, tapi pembahasannya tidak hanya tertuju
pada masalah yang wajib diimani saja tetapi juga masalah yang dilarang oleh
Islam.[38]
Secara
garis besar, aqidah terbagi menjadi enam landasan yang lazim disebut Rukun Iman
sebagai berikut:[39]
a)
Iman Kepada Allah SWT
Iman kepada Allah berarti menyakini akan eksistensi Allah,
Kemaha Esaan-Nya, Kemaha Adilan-Nya. Iman kepada Allah ialah bersedia
melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya
serta bersedia menampilkan sifat-sifat keagungan yang ada pada dzat Allah dalam
kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan batas-batas kemanusiaan.
b)
Iman Kepada Malaikat
Iman kepada para malaikat ialah menyakini keberadaannya sebagai
makluk Allah yang taat dan patuh kepada-Nya, serta mengimani tugas para
Malaikat seperti mengawasi manusia dan sebagainya.
c)
Iman Kepada Para Rasul
Iman kepada rasul ialah meneladani jejak langkahnya terutama
dalam akhlak dan keteguhan imannya dalam menegakkan kebenaran Allah.
d)
Iman Kepada Kitab-Kitab
Iman kepada kitab-kitab Allah berarti manusia harus menyakini
bahwa kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi itu antara satu dengan
dengan kitab yang lainnya tidak ada yang bertentangan dan bahkan saling
membenarkan serta menyempurnakan.Bedanya adalah bahwa kitab-kitab Allah sebelum
Al-Qur’an ditunjuk kepada bangsa-bangsa tertentu dan untuk dilaksanakan dalam
kurun waktu yang telah ditentukan pula, sedangkan Al-Qur’an yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW merupakan kitab terakhir untuk seluruh umat manusia
yang bersifat universal dan berlaku sampai akhir zaman.
e)
Iman Kepada Hari Akhir
Iman kepada hari akhir pada dasarnya ialah menyakini bahwa
pada hari kiamat itu benar-benar akan terjadi.
f)
Iman Kepada Qadha dan Qadar
Iman kepada qadha dan qadar adalah qadha artinya menentukan
atau memutuskan sesuatu, qadha dan qadar disebut juga dengan takdir yaitu
ketentuan Allah terhadap alam ini (termasuk manusia didalamnya) menurut ukuran
atau hukum-hukum tertentu.
2)
Syariah
Secara
bahasa term syariah berasal dari bahasa Arab yang berarti peraturan atau
undang-undang, yaitu peraturan-peraturan mengenai tingkah laku yang mengikat,
harus dipatuhi dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Adapun secara istilah,
syariah diartikan sebagai hukum-hukum yang ditetapkan Allah SWT untuk mengatur
manusia baik dalam hubungannya dengan Allah SWT, dengan sesama manusia, dengan
alam semesta dan dengan makhluk ciptaan lainnya.[40]
Syariah
ditetapkan oleh Allah untuk kaum muslimin, baik yang dimuat dalam Al-Qur’an
maupun Al-Hadis. Pengertian syariah mengandung dua aspek penting yang
dijelaskan oleh Yusuf Al-Qardhawi yaitu: Pertama, yang
mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT (vertikal) disebut dengan ibadah,
ibadah merupakan perbuatan inti yang termuat dalam rukun Islam yaitu syahadat,
shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu. Kedua, yang mengatur
manusia dengan manusia atau alam lainnya (horizontal) disebut muamalah,
muamalah merupakan aplikasi dari ibadah dalam hidup bermasyarakat.
Selanjutnya
prinsip dasar utama syariah adalah menebar nilai keadilan di antara manusia,
membuat hubungan yang baik antara kepentingan individual dan sosial, dan
mendidik hati agar mau menerima sebuah undang-undang untuk menjadi hukum yang
ditaati.[41]
Selain itu, aspek syariah dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang benar,
pandangan yang jernih, kejadian yang cermat terhadap hujjah atau dalil-dalil
dalam melihat setiap persoalan, sehingga umat tidak perpelosok ke dalam
kejelekan, sementara yang diinginkan dalam dakwah adalah kebaikan.[42]
3)
Akhlak
Akhlak
adalah sesuatu perilaku yang menggambarkan seseorang, terdapat dalam jiwa yang
baik, yang darinya keluar perbuatan yang mudah dan otomatis tanpa berfikir
sebelumnya.[43]
Pesan Akhlak meliputi akhlak terhadap Allah SWT, akhlak terhadap sesama
manusia, dan akhlak terhadap sesama makhluk hidup. Akhlak merupakan sifat yang
dibawa manusia sejak lahir yang bertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya,
sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik yang disebut sebagai akhlak mulia,
atau perbuatan buruk yang disebut sebagai akhlak tercela.[44]
Ajaran
akhlak dalam Islam pada dasarnya meliputi kualitas perbuatan manusia yang
merupakan ekspresi dari kondisi kejiwaannya. Akhlak dalam Islam bukanlah norma
ideal yang tidak dapat diimplementasikan dan bukan pula sekumpulan etika yang
terlepas dari kebaikan norma sejati. Dengan demikian yang menjadi muatan akhlak
dalam Islam adalah mengenai sifat dan kriteria perbuatan manusia serta berbagai
kewajiban yang harus dipenuhinya. Karena semua manusia harus
mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya, maka Islam mengajarkan kriteria
perbuatan dan kewajiban yang mendatangkan kebahagiaan, bukan siksaan.[45]
Muatan
akhlak dalam dakwah diorientasikan agar individu mampu menentukan baik dan
buruk, sehingga akal dan qalbu berupaya untuk mampu menjalani kebiasaan
masyarakat dengan normal. Melihat perkembangan zaman saat ini, maka sangat
perlu adanya penanaman serta penguatan muatan akhlak dalam dakwah bagi
masyarakat.
Di samping ketiga aspek di atas, Harun Nasution
mengklasifikasikan isi kandungan Al-Quran ke dalam bagian-bagian besar berikut:
1) Ayat-ayat mengenai dasar-dasar keyakinan, 2) Ayat-ayat mengenai hukum yang
melahirkanilmu hukum Islam (fiqh), 3) Ayat-ayat mengenai pengabdian kepada
Tuhan yang membawa ketentuan-ketentuan ibadah dalam Islam, 4) Ayat-ayat
mengenai budi pekerti luhur yang melahirkan etika Islam, 5) Ayat-ayat mengenai
dekat dan rapatnya hubungan manusia dengan Tuhan yang kemudian melahirkan
mistisisme Islam, 6) Ayat-ayat mengenai tanda-tanda dalam alam yang menunjukkan
adanya Tuhan yang membicarakan soal kejadian alam di sekitar manusia. Ayat-ayat
yang serupa ini menumbuhkan pemikiran filosofis dalam Islam, 7) Ayat-ayat
mengenai hubungan golongan kaya dengan golongan miskin, dan ini membawa pada
ajaran-ajaran sosiologis dalam Islam, 8) Ayat-ayat mengenai hubungan dengan
sejarah, terutama mengenai nabi-nabi dan umat mereka sebelum Nabi Muhammad Saw,
dan umat-umat lainnya yang hancur karena keangkuhan mereka. Dari ayat-ayat ini dapat diambil
pelajaran.[46]
Sebagaimana
Nabi Muhammad Saw dalam berdakwah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai materi
inti. Beliau membawakannya dan menyampaikan pula penjelasannya. Hal ini dapat
diketahui melalui firman Allah Swt dalam QS. al-Nahl (16): 44.
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ
لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan Kami turunkan
kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah
diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.[47]
Ayat
di atas menunjukkan peran Rasulullah Saw sebagai penjelas terhadap
firman-firman Allah Swt dan sekaligus menunjukkan fungsi al-sunnah terhadap Al-Quran
yang didefinisikan sebagai penjelas tentang maksud Allah Swt[48]
karena tidak semua persoalan disebut dengan jelas dan tegas oleh Al-Quran.
Dengan demikian materi dakwah itu sendiri sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Quran
adalah berbentuk pernyataan maupun pesan (risalah) Al-Quran dan sunnah.
Karenanya, Al-Quran dan sunnah itu sudah diyakini sebagai pedoman bagi setiap
tindakan kehidupan muslim.
Dari
uraian di atas, maka secara global materi dakwah itu dapat diklasifikasikan
menjadi tiga hal pokok, yaitu akidah, syari'ah, dan akhlak. Jadi pada
hakekatnya materi (isi) dakwah tetap yaitu seluruh ajaran Islam yang tertuang
dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Sedangkan pengembangannya akan
mencakup kultur Islam yang murni yang bersumber dari kedua sumber tersebut
dengan memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat.
B. Bentuk Penyampaian Pesan Dakwah dalam Media Cetak
Materi dakwah sebagai pesan dakwah merupakan isi ajakan, anjuran
dan ide gerakan dalam rangka mencapai tujuan dakwah. Sebagai isi ajakan dan ide
gerakan dimaksudkan agar manusia mau menerima dan memahami serta mengikuti
ajaran agama Islam benar-benar diketahui, dipahami, dihayati, dan selanjutnya
diamalkan sebagai pedoman hidup dan kehidupan. Untuk merealisasikan hal
tersebut dibutuhkan seorang hamba Allah yang benar-benar mau menyerahkan
dirinya kepada-Nya dengan sepenuh hati dan jiwa rasa. sebagai mana firman Allah
dalam Al-Qur’an surat Fushilat ayat 33 :
"Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang
yang menyeru kepada Allah, mengerjakan aural yang soleh dan berkata
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS.
Fushilat 33).
Rasulullah SAW dalam mengembangkan dakwah Islam memanfaatkan
risalah (surat menyurat) sebagai media komunikasi meskipun Nabi sendiri seorang
buta huruf. Sesungguhnya demikian dakwah secara risalah tetap terlaksana berkat
bantuan para sahabat nabi yang pandai menulis .dari kegiatan nabi dan para
sahabat melaksanakan dakwah secara tertulis yang disampaikan kepada raja-raja
menunjukkan bahwa landasan jurnalistik yang telah dikatakan beliau selaras
dengan kondisi dan kemajuan umat pada waktu itu.[49]
Dakwah menggunakan media cetak mengutamakan adanya materi yang
disampaikan yaitu pesan dakwah. Pesan adalah pernyataan yang didukung oleh
lambang dalam bentuk bahasa, baik lisan, tulisan; dan bahasa tubuh. pesan
mempunyai peranan untuk mempengaruhi massa dimana seorang komunikator
menyampaikan perangsang biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata untuk
mengubah tingkah laku.[50]
Dari sini diharapkan jika pesan disampaikan diterima orang lain,
maka penyampaian pesan mengharapkan adanya perubahan sikap pada orang tersebut.
Kemudian sebagai suatu yang lahir dalam diri manusia. Pesan merupakan suatu
bentuk tetap yang penting yang digunakan, dalam ulasan teoritis, praktis, dan
emperies tentang komunikasi manusia dan konsep pesan itu sendiri sangat beragam.
Dalam keragaman bentuk pesan yang mengarah kepada pembahasan tentang hakekat
pesan yang sebenarnya dalam suatu perspektif hakekat pesan yang terdiri dari:
1). Deskripsi
Bentuk deskripsi dalam sebuah tulisan dalam media cetak adalah
sebuah bentuk penyampaian pesan tulisan yang isinya menggambarkan secara detail
ataupun garis besar tentang suatu masalah, sehingga pembaca mengetahui secara
utuh masalah yang dikemukakan
2). Eksplanasi
Bentuk eksplanasi dalam suatu bentuk penyampaian pesan yang menerangkan
sejelas-jelasnya tentang suatu masalah sehingga pembaca memahami betul masalah
yang di kemukakan.
3). Prediksi
Bentuk prediksi adalah bentuk penyampaian pesan pada sebuah media
massa yang meramalkan atau berisikan ramalan atau dugaan apa yang kemungkinan
terjadi pada masa yang akan datang berkaitan dengan masalah yang dikemukakan
4). Preskripsi
Bentuk preskripsi adalah bentuk penyampaian pesan yang isinya
mengandung ajakan himbauan atau perintah bagi pembaca agar melakukan sesuatu.
Kata-kata "Harus" seharusnya, hendaknya, seyogyanya dan semacamnya
mendominasi pesan ini.[51]
Dalam pengungkapan pesan dakwah perlu diingat bahwa pesan harus
dimengerti bagi penerima pesan. Untuk itu komunikator harus mengungkapkan pesan
yang baik, maka komunikator dapat mengungkap maksud dari yang terluas dalam
materi pesan tersebut.
C. Media Cetak Sebagai Media Dakwah
Al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam mengandung nilai-nilai
yang menyangkut segi dunia dan akhirat. Al-Qur’ansebagai risalah Islam mencakup
dalam bentuk ilmu, yang mana ilmu itu sendiri akan berkembang dan menjadi
hasanah apabila ada jurnalis-jurnalis Islam seharusnya mampu menjadi penerjemah
dari gagasan kontemporer untuk kaum muslimin.
Sedangkan kita ketahui bersama bahwa wahyu pertama kali turun pada
bulan Ramadan ketika nabi muhammad sedang berkhalwat di gua biro adalah surat
al-Alaq ayat 1-5. Dengan diturunkannya ayat tersebut mengandung perintah kepada
nabi dan umatnya agar sebelum menjalankan misinya (dakwah) untuk iqro' terlebih
dahulu. Banyak hikmah yang terkandung dalam kata iqro' yaitu perintah membaca,
menelaah, menghimpun, dan mencari-cari sesuatu.
Pada zaman manapun sesungguhnya manusia berkeyakinan bahwa informasi
is opinion leader, begitulah anggapan yang kemudian dikembangkan
model-model dakwah Rasululloh sesuai dengan zamannya dan kondisi khalayak
sasarannya. Keberhasilan dakwah tidak semata terletak pada format dan isi,
tetapi ternyata sangat penting yakni tergantung, pada metode dan media.
Terlebih ketika masyarakat memasuki zaman ilmu pengetahuan (abad akal pikiran)
pengaruh imperialisme media informasinya sungguh sangat nyata.
Media dakwah ini amat besar manfaatnya sebab ia termasuk dari
beberapa media masa membentuk opini masyarakat ia hampir bisa sebagai makanan
pokok masyarakat yang mendambakan informasi dan selalu dapat mengikuti
perkembangan dunia. dakwah melalui media ini dapat berbentuk berita-berita
Islam, penelitian artikel-artikel Islam dan sebagainya. Kelebihan dari media
ini adalah.
1). Medium ini memberikan kesempatan untuk memilih materi-materi yang
sesuai dengan kemampuannya dan kepentingannya.
2). Medium yang diwakili oleh pers ini tidaklah terikat oleh waktu
dalam mencapai khalayaknya bahkan mereka secara bebas dapat melihat kembali
materi yang telah dibacanya untuk mengingatkannya, atau menguatkan ingatannya
3). Media yang berbentuk tulisan ini juga dapat mengembangkan suatu
topik yang diinginkan.
4). Media ini selanjutnya hidup dan berkembang dalam keadaan tidak
diikat oleh standar tertentu dalam hal konten keseluruhan dibanding pada
medium-medium yang lainnya. la memiliki kelebihan yang luas dan kebebasan gaya
yang lebih besar dalam memenuhi selera pembaca.
5). Media yang dapat ditangkap oleh mata ini dapat memiliki prestise
yang tinggi, justru karena dalam pembentukan prestise yang bersifat khusus,
dapat membentuk dengan aplikasi khusus, berdasarkan kepada kebiasaan membaca
yang di dalamnya tercakup perhatian dan kesenangan untuk membaca.[52]
Dengan sedikitnya waktu yang digunakan media cetak sebagai media
dakwah maka media cetak dapat dianggap sebagai media dakwah, karena dengan
menggunakan waktu relatif singkat. Akan tetapi mengenai keefektivitasannya
media cetak masih kalah dibanding dengan dakwah dengan cara pengorganisasian,
sebagaimana yang terkenal sekarang adalah dakwah fardiyah. Dalam dakwah fardiyah
ini adalah seorang Da'i mengajak kepada orang lain secara perseorangan dengan
tujuan memindahkan mad'u dengan tujuan merubah suatu kesadaran yang lebih baik
dan diridloi Allah SWT.
Ciri khas sistem komunikasi dengan menggunakan media massa Islam
penyampaian informasi kepada pembaca mengenai amar ma'ruf nahi mungkar, seperti
diterangkan dalam Al-Qur’an karim surat Ali-Imron ayat 104 sebagai berikut:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”
Pada dasarnya sistem komunikasi massa Islam adalah menyebarkan
(menyampaikan) informasi kepada pendengar, pemirsa atau pembaca tentang perintah
dan larangan tuhan. Hal ini berarti bahwa semua proses komunikasi Islami harus
terikat pada norma-norma agama Islam, semakin modern suatu masyarakat semakin
kompleks pulalah sistem komunikasinya, sepertinya semakin rumitnya interaksi
sosial didalamnya.[53]
Aktivitas media cetak sebagai media dakwah harus ditunjang dengan
sistem teknologi yang canggih. Terlebih lagi bag: media massa Islam, karena mau
tidak mau harus modern. Hal ini bisa ditunjang dengan sarana Internet,
sebagaimana yang telah dilakukan majalah Ummi on line, ini prestasi yang
membanggakan bagi umat Islam.
Karena
itu peneliti menggunakan analisis semiotika sosial M.A.K Halliday berpendapat
“grammar
dalam bahasa bukan merupakan kode,yang tidak semata-mata membangun kalimat yang
benar” [54]
[1] Asep Syamsul
M.Romli, Jurnalistik Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm.
111.
[2] "Siapa yang
menguasai dunia informasi, Dialah sesungguhnya yang akan menguasai dunia,"
demikian pepatah ini begitu mashyur kita dengar, pepatah yang melukiskan akan
besarnya kuasa media informasi (lihat: http://www.kompasiana.com/dwicahyo/kuasailah-informasi-niscaya-engkau-menguasai-dunia_5528a77af17e6126728b45a8
diakses 28 Agustus 2017 pukul 14.30 WIB)
[3] Untuk pembahasan
lebih lanjut tentang dakwah dapat dibaca pada laporan penelitian Dzikron Abdillah, Kata
Dakwah al-Qur’an,IAIN Walisongo Semarang (Dalam Abdul Basit, Wacana Dakwah
Kontemporer, Purwokerto: STAIN Purwokerto Press, 2006, hlm.26.
[5] Lihat
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online di https://kbbi.web.id/analisis, diakses
20 September 2017
[6] Lihat
di wikipedia indonesia, di https://id.wikipedia.org/wiki/Analisis, diakses 20 september 2017
[7]Departement
Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), ed. 3, hlm. 43.
[8]Muhammad Munir, S.Ag,
M.A., dan Wahyu Ilaihi, S.Ag, M.A., Manajemen
Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), ed. 1, cet. 2, hlm. 17.
[9]Wahyu Ilaihi, M.A., op. cit.,
hlm. 16.
[10]Drs. AS Haris
Sumadiria, M.Si., Menulis Artikel dan
Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis Profesional, (Bandung:
Simbiosa Rekatama Media, 2009), cet. 4, hlm. 3.
[11]Departemen Pendidikan
Nasional, op. cit., hlm. 347.
[12] Yayun Alutfiyanto,“Analisis
Pesan Dakwah Dalam “Rubrik Teladan” Majalah Ma’arif 2009.
[14] Nur Setyaningsih,“Analisis
Pesan Dakwah Dalam Kolom “Nasihat” Majalah Nabila Tahun 2005”, 2007.
[17] Van
Zoest mengartikan semiotika sebagai ilmu tanda dan segala yang berhubungan
dengannya: cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan
penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya (Sobur, 2009:95-96). Dalam konteks ini, semiotika yang digunakan adalah semiotika sosial MAK
Halliday, yakni cabang dari studi mengenai tanda yang khusus menelaah sistem
tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang berwujud
kata maupun lambang berwujud kalimat. Dengan kata lain semiotika sosial
menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa (Sobur, 2009:101).
[18] Rachmat Kriyantono,
Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group,
2014). hlm. 36
[20] Cara berpikir
induktif adalah cara berpikir yang berangkat dari hal-hal yang khusus (fakta
empirik) menuju hal-hal yang umum (tataran konsep). (Rachmat Kriyantono, Teknik Pratis Riset
Komunikasi,
2014)
[21] Amin, M. Masykur, Dakwah Islam dan Pesan Moral, (Yogyakarta:
Al-Amin Press, 1997), hlm. 2
[22] Sanwar, Aminuddin, Pengantar Ilmu Studi Dakwah,
(Semarang: Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, 1985), hlm. 34
[28] Sakwan, Ida Saida, Membangun Dakwah Islamiyah yang
Berkualitas, (Jakarta: PP. Hidmat NU, 2001), hlm. 10
[29] Jumantoro, Totok, Psikologi Dakwah Dengan Aspek-Aspek Kejiwaan
Qur'ani, (Jakarta: Amzah, 2001), hlm. 18
[34] Ansori, Hafi, H.M,
Pemahaman dan Pengalaman Dakwah, (Pedoman untuk Mujahid Dakwah), (Surabaya:
al-Ikhlas, 1993), hlm.
142-145
[35] Abdullah, Dikron,
Metodologi Dakwah, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Semarang, 1989, hlm. 74-133
[36] Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam,
Surabaya: Al Ikhlas, 1983, hlm. 63-64
[38] Indriansyah Islamiyah, Universitas
Islam Jakarta, Akhlak Istimayah, Jakarta: PT. Parameter, 1998, hlm. 5
[39] Somad Z. dkk., Pendidikan
Agama Islam, Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, 2004, hlm. 66-77
[40] M. Abdul Mujieb, Kamus
Istilah Fiqih, Jakarta: PT. Pustakaa Firdaus, 2000, hlm. 23
[41] Saerozi, Ilmu
Dakwah, Yogyakarta: Ombak, 2013, hlm. 39
[42] Munir, Manajemen Dakwah, Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2006, hlm. 26
[43] Hasan Shaleh, Studi
Islam dan Pengembangan Wawasan, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000, hlm.
56
[44] Muhammad Hasan, “Pesan-pesan
Dakwah dalam Buku 7 keajaiban Rezeki Karya ippho Santosa”, IAIN Antasari,
Banjarmasin, 2013, hlm. 3
[45] M. Munir, Manajemen
Dakwah, Jakarta: Prenada Media, 2006, hlm. 24
[46] Harun Nasution,
Islam Rasional; Gagasan dan Pemikiran Cet. V; Bandung: Mizan, 1998, hlm.
20
[47] Departemen
Agama RI, hlm. 408
[48] M. Quraish
Shihab, Membumikan Alquran; Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan
Masyarakat Cet. XIII; Bandung: Mizan, 1996, hlm. 122-123
[51] Syamsul, Asep. M.
Ramli, Jurnalistik Praktis Untuk Pemula,
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm. 47-48
Tidak ada komentar:
Posting Komentar