Senin, 01 April 2019

ANALISIS PESAN DAKWAH DALAM KOLOM “OASE” PADA HARIAN SUARA MERDEKA EDISI BULAN AGUSTUS 2017


ANALISIS PESAN DAKWAH DALAM KOLOM “OASE” PADA HARIAN SUARA MERDEKA EDISI BULAN AGUSTUS 2017
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Sebuah pesan dakwah dizaman modern seperti sekarang bukan hanya melalui mimbar dan pangung melaikan melalui perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, menjadikan informasi kini bukan hanya sebatas kebutuhan melainkan juga dapat menjadi sumber kekuasaan.[1] Hal ini dilatar belakangi dengan anggapan masyarakat bahwa siapa yang menguasai informasi dialah penguasa masa depan dan hal ini terbukti.[2] Sumber kekuasaan kini bukanlah lagi harta di tangan segelintir orang, melainkan sebuah informasi di tangan banyak orang.
Era informasi yaitu era di mana manusia disadarkan kepada berbagai informasi yang komplit dan multidimensional, baik itu informasi berbentuk lisan maupun informasi berbentuk tulisan. Hal ini tidak dapat disangkal lagi bahwa informasi merupakan kebutuhan pokok bagi sebagian orang, karena dapat menghilangkan ketidakpastian walaupun terkadang sebuah informasi menjadi sesuatu hal yang menakutkan, karena dapat menimbulkan sebuah kesedian atau kesusahan.
Berkaitan dengan hal tersebut, Islam sebagai agama yang responsif dengan keadaan dan perubahan, sudah semestinya umat Islam (muslim) terutama dai melakukan perubahan terhadap dakwah Islam yang dipahami sebagai proses penyampaian agama Islam (ini berarti menyampaikan informasi) terhadap umat manusia. Istilah dakwah di dalam Al-Qur’an diungkapkan dalam bentuk fi’il dan mashdar. Al-Qur’an menggunakan kata dakwah untuk mengajak kepada kebaikan yang disertai dengan resiko masing-masing pilihan. Dalam Al-Qur’an, dakwah dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka atau kejahatan. Disamping itu, ada ayat-ayat yang menjelaskan istilah dakwah dalam konteks yang berbeda.  Hal itu dapat dilihat dari hasil penelitian Dzikron Abdillah yang mencatat kata dakwah di dalam Al-Qur’an diungkapkan kira-kira 198 kali yang tersebar dalam 55 surat (176 ayat).[3]
Sebagai suatu proses, dakwah tidak hanya merupakan usaha menyampaikan saja, tetapi merupakan usaha mengubah way of thinking, way of feeling, way of life, manusia sebagai sasaran dakwah kearah kualitas kehidupan yang lebih baik.
Dengan berpedoman pada kaidah al-muhafazhah ala al-qadim ash-shalih wal-‘akhdzu bi al-jadid al-ashlah (melestarikan tradisi yang lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik), dakwah Islam perlu menggunakan alat-alat komunikasi dan informasi modern dalam menerapkan metode dan media dakwah tanpa meninggalkan metode lama yang lebih baik, sehingga pesan dakwah Islam dapat mencapai sasaran yang tepat.
Maraknya media sebagai sarana komunikasi massa dan alat pembentuk opini publik pada era informasi sekarang ini, para mubaligh, aktivis dakwah, dan umat Islam terkena kewajiban secara syar’i melakukan dakwah bi al-lisan, bi al-hal dan bi al-qalam. Para juru dakwah dapat memanfaatkan berbagai media yang ada untuk mengembangkan informasi dakwah.
Salah satu media untuk berdakwah secara bi al-qalam yaitu media cetak, seperti surat kabar, majalah, bulletin dan lain sejenisnya. Keistimewaan yang dimiliki oleh media ini yang tidak dimiliki oleh media lain yaitu bahwa media ini bisa dinikmati atau dibaca berulang kali sehingga benar-benar bisa mempengaruhi sasarannya.
Salah satu media cetak yang memberikan ruang atau rubrik khusus tentang ke-agamaan adalah Suara Merdeka. Sebagai salah satu media massa cetak yang sudah popular dikalangan masyarakat umum di wilayah Jawa Tengah, Suara Merdeka memiliki rubrik “OASE” yang terbit setiap hari Jum’at. Rubrik atau kolom tersebut biasa diisi oleh penulis profesional di luar tim redaksi.
Untuk itu penulis tertarik untuk mengkaji isi pesan dakwah dalam media cetak Suara Merdeka. Pesan dakwah merupakan salah satu unsur dari aktifitas dakwah disamping adanya unsur da’i, mad’u, dan media serta metode. Adapun arti perkata dari jenis pesan dakwah yaitu, yang pertama jenis berarti ragam, macam, marga dan lain lain. Yang kedua pesan berarti informasi, pemberitahuan atau inti sari dari suatu pembicaraan yang lebar. Yang ketiga dakwah yaitu ajakan atau seruan. Menurut istilah (terminologi) definisi dakwah oleh Hamsah Ya’kub, dalam bukunya “Publisistik Islam” memberikan pengertian bahwa dakwah adalah mengajak manusia dengan hikmah bijaksana untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.[4]
Peneliti mengfokuskan pada kolom “OASE” edisi bulan Agustus 2017, karena pada bulan Agustus bertepatan dengan momentum hari ulang tahun Republik Indonesia (RI) atau hari kemerdekaan serta menjelang hari raya Idul Adha. Sehingga penulis mengambil judul “Analisis Pesan Dakwah dalam Kolom “OASE” pada Harian Suara Merdeka Edisi Bulan Agustus 2017”.
Kata analisis di sini dapat diartikan sebagai penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.[5] Selain itu, secara spesifik, analisis diartikan sebagai kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam.[6]
  1. Penegasan Istilah
1.         Analisis
Analisis dalam kamus bahasa Indonesia berarti penyelidikan terhadap sesuatu peristiwa (kerangka, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkara, dan sebagainya).[7]
2.         Pesan Dakwah
Secara etimologis, dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a, yad’u, da’wan, du’a, yang diartikan sebagai mengajak/menyeru, memanggil, seruan, permohonan, dan permintaan.[8]
Ali Mafudz memberi pengertian dakwah sebagaimana yang dikutip Wahyu Ilaihi, yakni;[9]
“Mendorong [memotivasi] manusia untuk melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta memerintah mereka berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar agar mereka memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.”








3.         Kolom
Kolom merupakan opini singkat seseorang dalam menyoroti suatu permasalahan atau keadaan yang terdapat dalam masyarakat  dengan lebih banyak menekankan aspek pengamatan dan pemaknaan.[10]
4.         Harian
Kata Harian alam kamus bahasa Indonesia berarti Surat Kabar yang terbit tiap-tiap hari.[11]
  1. Fokus Penelitian
Fokus penelitian kualitatif adalah fokus kajian penelitian atau pokok soal yang hendak diteliti, mengandung penjelasan mengenai apa yang menjadi pusat perhatian dan hal yang akan dibahas secara mendalam dan tuntas. Adapun fokus penelitian ini adalah pesan dakwah dalam kolom “OASE” pada Harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1.    Apakah ada pesan dakwah dalam kolom “OASE “ pada surat kabar harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017 ?
2.    Bagaimana pesan dakwah  dalam kolom “OASE “ pada surat kabar harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017 ?

  1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dipaparkan, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.    Untuk mengetahui pesan dakwah dalam kolom “OASE “ surat kabar harian Suara Merdeka pada edisi bulan Agustus 2017.
2.    Untuk mendeskripsikan pesan dakwah dalam kolom “OASE “ surat kabar harian Suara Merdeka pada edisi bulan Agustus 2017.
  1. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1.      Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan bisa memperkaya khasanah keilmuan dakwah khususnya tentang cara penyampaian dakwah bi al- qalam di surat kabar. Dan bisa memberikan tambahan informasi dan pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu komunikasi dan penyiaran islam yang nantinya bisa digunakan untuk mengembangkan teori dan metode penelitian dalam bidang Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
2.      Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan oleh pembaca skripsi sebagai bahan perbandingan menyusun materi dakwah untuk dai, masyarakat, dan pelaksana PPL (praktek pekerja lapangan).


  1. Tinjauan Pustaka
Supaya penelitian ini menghasilkan sebuah informasi dan pengetahuan yang maksimal, obyektif, serta menghindari terjadinya plagiasi maka penulis mengadakan penelusuran terhadap penelitian-penelitian yang relevan dan studi pustaka terkait penelitian penulis diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Penelitian yang dilakukan saudara Yayun Alutfiyanto tahun 2009 yang berjudul “Analisis Pesan Dakwah dalam Rubrik Teladan Majalah Ma’arif  (Edisi Januari 2002-Juni 2005)”. Dalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan metode analisis deskriptif untuk prosedur pemecahan yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang nampak. Dengan menggunakan analisis deskriptif isi materi akan digambarkan secara jelas dan  materi dakwah akan diklasifikasikan ke dalam tiga materi yaitu akidah, akhlak dan syariah. Hasil penelitian pesan dakwah tersebut adalah bahwa dalam majalah Ma’arif  “Rubrik Teladan” pada garis besarnya lebih menonjolkan pesan akhlak.[12]
2.      Penelitian yang dilakukan oleh saudari Nurul Fatimah tahun 2009 yang berjudul “Analisis Terhadap Materi Dakwah Dalam  Rubrik Tausiyah Majalah Aham (Edisi 69-78 1429 H)”. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui materi dakwah yang terdapat yang ada dalam rubrik “tausiyah”, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan analisis isi (content analysis) dan memilih paragraf sebagai suatu kajian (unit of analysis) kemudian diklasifikasikan ke dalam tiga pokok materi Islam yaitu aqidah, syariah, akhlak dan peneliti mengambil kebijakan dengan memasukkan materi yang lain misalnya filsafat, tasawuf dan lain-lain. Sedangkan untuk teknik analisis data peneliti menggunakan semiotik deskriptif dengan berfikir secara induktif untuk mengambil kesimpulan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa materi-materi Islam dam rubrik  “Tausiyah” majalah Aham edisi 69-78 1429 H terbagi ke dalam dua kategori yaitu : tasawuf dan syariah. Kategori tasawuf muncul 8 kali dan kategori syariah muncul 1 kali.[13]
3.      Penelitian yang dilakukan oleh saudari Nur Setyaningsih tahun 2007 yang berjudul “Analisis Pesan Dakwah Dalam Kolom “Nasihat” Majalah Nabila Tahun 2005”. Dalam skripsi tersebut, Nur Setyaningsih menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan semiotika. Analisis semiotik berguna untuk menarik kesimpulan makna pesan yang terdapat dalam kolom nasihat majalah Nabila. Pada penelitian tersebut materi dakwah digolongkan ke dalam tiga aspek yaitu akhlak, aqidah dan Syariah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa materi akhlak adalah materi yang paling menguasai dalam kolom nasihat majalah Nabila.[14]
Ketiga tinjauan pustaka di atas, digunakan peneliti untuk mendukung teori-teori yang digunakan peneliti dalam penelitian dan sebagai bahan pertimbangan atau rujukan dalam menentukan langkah penelitian. Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu sangat tajam terutama dalam pemilihan objek serta metode penelitian. Selain itu juga sebagai perbandingan agar dapat diketahui kelemahan dan kelebihan dari masing-masing jenis penelitian yang menggunakan metode dan analisis berbeda dalam mengalisis pesan dakwah kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
  1. Metode Penelitian
1.      Jenis penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif adalah kategori-kategori subtansi dari makna-makna, atau lebih tepatnya adalah interpretasi-interpretasi terhadap gejala yang diteliti yang pada umumnya memang tidak dapat diukur dengan bilangan. Sehingga penelitian kualitatif sebenarnya bersifat interpretatif, setidaknya sampai tingkat tertentu memiliki nuansa subjektif.[15]
Sebagian penelitian komunikasi kualitatif justru lebih dimaksud untuk membangun teori komunikasi yang sudah ada dan bukan untuk menguji teori tersebut. Sehingga temuan-temuan penelitian komunikasi kualitatif biasanya bukan dipresentasikan sebagai suatu generalisasi (berlaku umum), melainkan lebih terbatas pada kasus atau konteks yang diteliti.[16]
Selain menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, dalam penelitian ini juga menggunakan pendekatan analisis semiotic MAK Halliday,[17] untuk mengungkap makna dibalik tanda atau sign sebuah teks. Dalam semiotika sosial model M.A.K Halliday ada tiga unsur yang menjadi pusat perhatian penafsiran teks secara kontektual, yaitu medan (field), pelibat (tenor), dan sarana (mode), seperti yang terlihat dalam tabel berikut:
Tabel: Unsur Semiotika Sosial M.A.K Halliday
Unsur
Keterangan
Medan Wacana (field of discourse)
Menunjuk pada hal yang terjadi: apa yang dijadikan wacana oleh pelaku (media massa) mengenai sesuatu yang sedang terjadi di lapangan peristiwa
Pelibat wacana (tenor of discourse)
Menunjuk pada orang-orang yang dicantumkan dalam teks (berita): Sifat orang-orang itu, kedudukan dan peranan mereka. Dengan kata lain, siapa saja yang dikutip dan bagaimana sumber itu digambarkan sifatnya.
Sarana wacana (mode of discourse)
Menunjuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa: bagaimana komunikator (media massa) menggunakan gaya bahasa untuk menggambarkan medan (situasi) dan pelibat (orang yang dikutip) misalnya apakah penggunaan bahasa yang vulgar atau malah menggunakan bahasa yang diperhalus atau hiperbolik atau eufemiistik.
Sumber: Alex Sobur (2009:148), Analisis Teks Media: Suatu Pengantar
2.      Sumber data
Pada dasarnya penelitian adalah kegiatan untuk mencari kebenaran suatu masalah. Upaya mencari kebenaran ini melalui kegiatan pengumpulan fakta-fakta/data, menganalisisnya, menginterpretasikan dan menarik kesimpulan.[18] Maka sumber data menjadi bagian penting dalam sebuah penelitian. Sumber data dalam penelitian ini meliputi :
a.       Data primer: data yang berupa kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
b.    Data Sekunder: Studi kepustakaan, yaitu sumber-sumber tertulis seperti buku, arsip, artikel, surat kabar, internet yang berkaitan dengan penelitian.
3.      Metode Pengumpulan data
Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan peneliti dalam mengumpulkan data.[19] Dalam Penelitian ini peneliti menggunakan metode dokumentasi. Tujuannya untuk mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan interpretasi data.
Adapun bentuk dokumentasi dalam penelitian ini adalah kumpulan materi kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017. Hal inilah yang nantinya menjadi bahan analisis penulis. Selain metode dokumentasi peneliti juga menggunakan studi pustaka yang bertujuan untuk melakukan kajian teoritis terkait dengan topik penelitian seperti kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
4.      Metode analisis data
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif yaitu penelitian yang menggunakan cara berpikir induktif[20]. Karena itu peneliti menggunakan analisis semiotika sosial M.A.K Halliday

Gambaran untuk meneliti pesan dakwah yang ada.
Description: C:\Documents and Settings\Win-XP\My Documents\New Picture (6).bmpGambar metode analisis semiotika



  1. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagian awal
Mencakup Halaman Judul, Halaman Nota Persetujuan Pembimbing, Halaman Pengesahan, Pernyataan, Motto, Persembahan, Kata Pengantar, Abstraksi, Daftar Isi.
2.    Bagian isi
Bab I berisi Pendahuluan yang terdiri dari beberapa sub judul yaitu: Latar Belakang Masalah, Fokus Penelitian, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan Skripsi.
Bab II berisi Landasan Teori yang terdiri dari Dalam bab ini akan dibahas tentang dakwah, esensi dakwah, unsur-unsur  dakwah, media dakwah, dan surat kabar sebagai media dakwah, serta metode analisis semiotoka M.A.K Halliday.
Bab III berisi Gambaran Umum tentang kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
Bab IV berisi Analisis pesan dakwah kolom “OASE” dalam harian Suara Merdeka edisi bulan Agustus 2017.
Bab V berisi Penutup yang meliputi Kesimpulan dan Saran.
3.    Bagian akhir
Pada bagian ini dapat dicantumkan pula daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat pendidikan penulis.
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Sekilas Tentang Dakwah
1. Pengertian Dakwah
Islam adalah agama yang diturunkan kepada seluruh manusia melalui Rasulullah. Kesempurnaan dan kesungguhan ajaran Islam tidak sekedar sebagai tuntunan hidup yang hanya untuk diketahui, dibicarakan dan didengarkan tanpa adanya pengamatan yang riil. Akan tetapi lebih dari itu untuk diamanatkan dan dapat dikendalikan sikap, tindakan, perbuatan dan cara hidup. Agar Islam tetap menjadi tuntunan hidup manusia diperlukan adanya sebuah kegiatan yang disebut dakwah. Menyampaikan kebenaran-kebenaran ajaran Islam merupakan tanggung jawab kita untuk menyampaikan kebenaran Islam sesuai dengan misinya sebagai rahmatan lil alamin.[21]
Berpijak dari itulah maka sebelum dakwah ini dibahas secara mendetail, peneliti akan terlebih dahulu memberikan pengertian dakwah sebagai berikut:
a.       Arti Dakwah Menurut Bahasa
Kata "Dakwah" berasal dari bahasa Arab yaitu sebagai bentuk masdar dari kata kerja yang berarti do'a, seruan, panggilan, ajakan, undangan dan permintaan. Dakwah yang semula hanya berarti memanggil atau mengajak kepada sesuatu, dalam pengertian khusus berarti mengajak ke jalan Tuhan (Allah). Dakwah sebagai ajakan adalah seruan untuk mengikuti dan mengamalkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Bagi yang belum Islam diajak menjadi muslim dan bagi orang-orang yang sudah Islam diajak menyempurnakan keislarnannya. Dakwah dalam arti ini dapat dijumpai dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 23 yang berbunyi:
"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan lentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad),buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar".

b.      Arti Dakwah Menurut Istilah
Adapun pengertian dakwah secara istilah atau terminologi ada beberapa pakar ilmu dakwah yang telah mencoba untuk merumuskan istilah tersebut, diantaranya perumusan yang dikemukakan peneliti antara lain: 
a)      Pendapat Syekh Ali Mahfudz yang dikutip oleh Aminuddin Sanwar, yang berbunyi: "Mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat balk dan melarang mereka dari perbuatan yang jelek agar mereka mendapat kebahagiaan dunia dan Akhirat".[22]
b)      Menurut Jamaluddin Kafie "Dakwah adalah suatu sistem kegiatan dari seseorang, sekelompok atau golongan umat Islam sebagai aktualisasi imaniah yang dimanifestasikan dalam bentuk seruan, ajakan, panggilan dan do'a yang disampaikan dengan ikhlas dan dengan menggunakan metode, system dan teknik tertentu agar menyentuh Qolbu dan Fitrah seseorang, keluarga, kelompok dan masyarakat supaya manusia dapat mempengaruhi tingkah lakunya untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu terwujudnya tata kehidupan dan realitas hidup yang Islami".[23]
c)      H. Endang S. Anshori, mengatakan sebagai berikut: "Arti dakwah dalam makna terbatas yaitu menyampaikan Islam kepada manusia secara lisan maupun secara tulisan ataupun secara lukisan. Sedangkan arti dakwah dalam makna luas yaitu penjabaran, penerjemahan dan pelaksanaan Islam dalam perikehidupan dan penghidupan manusia termasuk didalamnya politik, ekonomi, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian, kekeluargaan, dan sebagainya.".[24]
d)      Muhammad Nastir, dalam tulisannya yang berjudul fungsi dakwah Islam dalam rangka perjuangan mendefinisikan dakwah sebagai: "Usaha-usaha menyeru dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini yang meliputi; amar ma'ruf nahi mungkar dengan berbagai macam media dan cara yang diperbolehkan akhlaq dan membimbing pengalamannya dan perikehidupan perseorangan, perikehidupan rumah tangga dan perikehidupan bermasyarakat serta perikehidupan bernegara.[25]
e)      Thoha Yahya Umar: Definisi dakwah menurut Islam adalah: "Mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan atau kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat".[26]
f)       Dzikron Abdillah, mendefinisikan dakwah: "Semua usaha untuk menyebarluaskan Islam dan merealisasikan ajarannya ditengah masyarakat dan kehidupannya agar mereka memeluk agama Islam dan mengamalkannya dengan baik.[27]
g)      Ida Saidah Sakwan, "Menyeru atau mengajak / memanggil kepada sekalian umat manusia untuk memeluk agama Islam dengan kemauan hati mereka sendiri tanpa paksaan, menyuruh umat Islam kepada sebagian lain untuk amar ma'ruf nahi mungkar, serta nasihat menasihati antara seorang dengan yang lain sesama kaum muslimin".[28]
h)      H.M Arifin mendefinisikan dakwah: "Sebagai suatu kegiatan ajakan bail (dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara kelompok agar timbul dalam diri nya suatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengamatan terhadap agama sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan adanya unsure-unsur paksaan".[29]

Dari beberapa definisi tersebut diatas, meskipun terdapat perbedaan dalam perumusan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a)      Dakwah merupakan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar dan sengaja
b)      Usaha yang dilakukan atau diselenggarakan itu berupa mengajak orang untuk beriman dan mentaati perintah Allah SWT, amar ma'ruf atau perbaikan dan pembangunan masyarakat dan nahi mungkar
c)      Usaha tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat kelak yang diridloi oleh Allah SWT.
2. Esensi Dakwah
Islam adalah agama yang memandang setiap penganutnya sebagai Da'i pada dirinya sendiri dan orang lain. Karena Islam tidak menganut adanya hirarki religius, setiap muslim bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dihadapan Allah SWT. Namun demikian, karena ajaran Islam bersifat universal dan ditujukan kepada umat manusia, kaum muslimin mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa ajarannya sampai kepada seluruh umat manusia disepanjang sejarah. Dalam bahasa Islam tindakan penyebaran dan mengkomunikasikan pesan-pesan Islam ini merupakan esensi dakwah.[30]
Salah satu upaya untuk memahami hakekat dakwah atau esensi konsep-konsep adz- Dzikr, al-Amr, an-Nasihah, mau`dhoh hasanah, al-ghoyr dan lain-lain. Dengan konsep-konsep dasar ini memungkinkan orang dapat memahami hakekat dakwah yang sebenarnya (secara objektif) Iebih jelas dan menjadi dasar bahwa setiap muslim dalam segala gerak tindakannya akan merefleksikan dakwahnya.[31]

a. Adz- Dzikr
Artinya mengingatkan atau peringatan. Esensinya yakni penyampaian peringatan supaya mereka mendapat petunjuk dari Allah SWT dan tidak sesat. Setiap kurun waktu Allah SWT selalu menurunkan nabi-Nya sejak nabi adam as sampai nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah: 
"Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada  tiap-tiap umat untuk menyerukan) sembahlah Allah SWT (.raja) dan jauhilah thaghut itu, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT dan adapula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Makes berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul) "(QS. An-Nahl: 36).

b. Al- Amr
Artinya perintah, esensinya adalah perintah yang ma'ruf dan  benar dan perintah untuk menjauhi yang mungkar dan batil. Perintah untuk menegakkan dan merealisasikan hukum yang telah digariskan dan ditetapkan oleh Allah SWT yang esensinya adalah untuk kebaikan juga kepentingan manusia.
Dakwah dalam arti amar ma'ruf nahi mungkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup manusia. Ini adalah kewajiban sebagai pembawa fitrah manusia selaku makhluk ijtima'i. Secara konseptual dalam Islam tidak ada paksaan (QS. Al- Baqarah: 256):
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqarah: 256) (Departemen Agama RI, 1978: 30)

Hal ini berarti bahwa tiap-tiap perintah atau larangan dapat atau tidak wajib dikerjakan. Namun bila kita melanggar prinsip-prinsip hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT esensinya berarti kita (manusia) akan kehilangan tujuan dan sia-sia tanpa makna serta kehilangan sikap hormat kepada yang tinggi dan Islam.
c. mau`dhoh hasanah
Artinya pengajaran/nasihat-nasihat yang baik menurut Abi Ja'far ibn Farir Ath-Thabari dalam tafsirnya "Jami'ul Bayan", menjelaskan bahwa mau'idhah hasanah nasihat-nasihat atau ceramah-ceramah yang indah yang dijadikan Allah SWT sebagai hujjah kitabnya pada mereka. Esensinya adalah mendidik dan mengajar manusia dengan cara yang baik dan benar (dengan pemaparan moral dan rohani) yang berakar dari wahyu, agar mereka sadar dan insaf sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan fitrahnya yang asli yakni Islam. Dalam dakwah  mauidhoh hasanah harus dikaitkan dengan hikmah dan mujadalah, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125: 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan jalan hikmah dan pelajaran yang balk dan bantahlah mereka dengan jalan yang baik."(QS. an-Nahl :125).

Itu merupakan sebagai alternatif pertama ini dalam wujud komunikasi melalui keyakinan intelektual dan rasional (al-Hikmah) dan pemaparan moral dan ruhaniyah (al-Mauidhoh). Itu sebabnya "mauidhoh hasanah" menempati posisi penting dalam dakwah, karena manusia memiliki realitas ganda yakni bukan hanya sebagai makhluk al-Basyar yang menduduki  posisi berada (being), namun juga sebagai makhluk yang menduduki posisi menjadi (becoming) sebagai proses penyempurnaan dalam rangka mencapai derajat yang paling tinggi di hadapan Tuhannya, atau dengan kata lain manusia mempunyai dimensi ganda yakni dimensi ruhaniah dan dimensi jasmaniah.
d. Al Washiyah
Artinya wasiat atau pesan, yakni memberi wasiat atau nasihat kepada umat manusia agar menjalankan syariat Allah, kebenaran, takwa, dan kebaikan. 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan jalan hikmah dan pelajaran yang balk dan bantahlah mereka dengan jalan yang baik."(QS. an-Nahl :125).

3. Tujuan Dakwah
Tujuan-tujuan umum harus dirumuskan dalam tujuan-tujuan yang lebih operasional dan dapat dievaluasi keberhasilan yang telah dicapainya. Misalnya tingkat keistiqomahan, tingkat keamanahan dan kejujuran, kurangnya angka kemaksiatan, tingkat pengangguran dan lain sebagainya.
Tujuan ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan seluruh aktivitas dakwah dapat diketahui dengan jelas kemana arahnya ataupun jenis kegiatan apa yang mau dilaksanakan, kepada siapa berdakwah, dengan cara bagaimana dan sebagainya sehingga tidak terjadi over-lapping antara juru dakwah yang satu dengan yang lain hanya disebabkan karena masih umumnya tujuan yang hendak dicapai.[32]
Jamaluddin Kafie[33] mengungkapkan beberapa tujuan dakwah:
a. Tujuan hakiki Dakwah bertujuan langsung untuk mengajak manusia mengenal Tuhannya dan mempercayai-Nya sekaligus mengikuti jalan petunjuknya.
b. Tujuan umum  
Seruan kepada umat manusia untuk mengindahkan seruan Allah SWT dan Rasulnya agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
c. Tujuan khusus
Dakwah menginginkan dan berusaha bagaimana membentuk tatanan masyarakat Islam yang utuh dan komprehensif.
d. Tujuan urgen
Dakwah ingin mencetak manusia yang berakhlak yang secara eksis dapat tercerm in dalam fakta hidup dan lingkungannya serta dapat mempengaruhi jalan pikirannya.
e. Tujuan Insendental
Banyaknya problem manusia, dakwah menghendaki untuk dapat meringankan beban manusia dengan jalan memberikan jalan keluar atau solusi persoalan yang lurus berkembang atau memberi jawaban atas berbagai persoalan yang telah dihadapi oleh setiap golongan manusia di segala ruang dan waktu.
Adapun tujuan yang tertinggi daripada usaha dakwah hanya semata-mata mengharapkan dan mencari ridho Allah SWT. Secara materiil usaha dakwah itu diarahkan kepada tujuan-tujuan yaitu antara lain:
a. Menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Karena hidup itu bukanlah semata-mata untuk makan dan minum sebagaimana hidupnya binatang dan tumbuh-tumbuhan, akan tetapi hidup manusia disamping dapat diartikan turun naiknya nafas dalam tubuh jasmani melainkan lapisan kedua adalah cita-cita hidup karena kesadaran hidup merupakan pertalian hari ini dengan hari yang lampau dan hari esok. Disinilah terasa ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang manfaat dan ada yang madhorot.
b. Mengeluarkan manusia dari kegelapan atau kesesatan menuju alam yang terang benderang dibawah sinar petunjuk Ilahi, sehingga manusia memiliki hidup yang berarti. [34]
4. Unsur-Unsur Dakwah
Sebelum peneliti membahas materi pesan dakwah sebagai prolog peneliti sebutkan unsur-unsur dakwah terlebih dahulu. Kreatifitas dakwah tidak terlepas dari unsur-unsur dakwah karena dalam hal ini sangatlah diperlukan sebab merupakan bagian yang sangat esensi dari dakwah yang sating berkaitan. Adapun unsur-unsur dakwah Islam antara lain meliputi : subyek dakwah, obyek dakwah, metode dakwah, media dakwah, dan materi dakwah.
a. Subyek dakwah
Yang dimaksud dengan subyek dakwah atau pelaku dakwah adalah orang yang berusaha mengubah situasi kepada situasi yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah baik secara individual maupun berbentuk kelompok (organisasi), sekaligus sebagai pemberi informasi dan pembawa.
Subyek dakwah merupakan unsur terpenting dalam pelaksanaan dakwah, karena sebagaimana dalam pepatah dikatakan "the man behind the gun" maksudnya manusia sebagai pelaku adalah unsur yang paling penting dan menentukan.

b. Obyek dakwah
Mad'u sebagai penerima dakwah (obyek dakwah) adalah seluruh umat manusia tanpa terkecuali, baik pria maupun wanita, beragama maupun tidak beragama, pemimpin maupun rakyat biasa. Seluruh manusia sebagai obyek dakwah adalah karena hakekat diturunkannya agama Islam dan kerisalahan Rasulullah SAW. Itu berlaku secara universal untuk manusia seluruhnya tanpa memandang pada warna kulit, asal usul keturunan daerah tempat tinggal, pekerjaan lain-lain. Oleh karena itu dakwah tertuju kepada mereka semua tanpa melihat tingkat, kebangsaan, maupun golongan.
c. Metode dakwah
Metode dakwah adalah metode yang ditempuh oleh subyek di dalam melaksanakan tugasnya (berdakwah). Sudah barang tentu di dalam berdakwah diperlukan cara-cara tertentu agar tidak mencapai tujuan yang baik, untuk dirinya dan melihat secara benar terhadap obyek dakwah dalam segala seginya.
Metode dakwah akan efektif bila di terapkan sesuai dengan kondisi mad'unya. Sebagaimana telah ditegaskan dalam al qur'an surat An-Nahl 125
 Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berbantahlah kepada mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk

Berikut ini dikemukakan macam-macam metode dakwah (dakwah dalam pengertian luas) yang mungkin dijadikan sandaran pilihan dalam melaksanakan dakwah ditengah-tengah masyarakat. Metode ini sangat penting untuk mengantarkan pada tujuan dakwah yang akan dicapai.
1). Metode ceramah
Ceramah adalah suatu teknik atau metode dakwah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik bicara oleh seorang Da'i atau mubalig pada suatu aktivitas dakwah. Ceramah dapat pula bersifat propaganda, kampanye, berpidato, khutbah, sambutan, mengajar dan sebagainya. metode ceramah sebagai suatu metode atau teknik berdakwah tidak jarang digunakan oleh Da'i-Da'i ataupun para utusan Allah dalam usaha menyampaikan risalahnya.
2). Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah menyampaikan materi dakwah dengan cara mendorong sasarannya (obyek dakwah) untuk menyatakan sesuatu masalah yang dirasa belum dimengerti dan mubalig/Da'inya sebagai seorang yang menjawab. Metode ini dimaksudkan untuk melayani masyarakat sesuai dengan kebutuhannya.
3). Metode diskusi
Diskusi sebagai metode dakwah belum lazim digunakan oleh para Da'i atau para panitia penyelenggara dakwah, karena banyak Da'i yang belum mengerti tentang pengertian diskusi apa tujuan serta manfaat diskusi bagi kegiatan dakwah.
4). Metode propaganda
Propaganda berasal dari bahasa yunani "propagare" artinya menyebarkan atau meluaskan. Dakwah dengan menggunakan metode propaganda berarti suatu upaya menyiarkan Islam dengan cara mempengaruhi dan membujuk massa dan persuasive dan bukan bersifat otoritati 

5). Metode keteladanan
Metode keteladanan ini dikenal dengan istilah demonstration method yakni sesuatu yang diberikan dengan cara memperlihatkan sikap gerak gerik, kelakuan perbuatan dengan harapan dapat menerima, melihat, memperlihatkan, dam mencontohkannya. Dakwah dengan metode keteladanan berarti suatu cara penyajian dakwah dengan jalan memberikan keteladanan secara langsung, sehingga mad'u akan tertarik untuk mengikuti apa yang akan didakwakan.
6). Metode Infiltrasi
Dakwah dengan metode infiltrasi ialah metode dakwah dimana intisari agama disisipkan ketika memberikan keterangan, penjelasan, pelajaran, kuliah, ceramah, pidato, dan sebagainya. Maksudnya bersama-sama dengan bahan lain seorang Da'i memasukkan intisari jiwa agama kepada mad'u.
7). Metode Drama
Dakwah dengan menggunakan metode ini merupakan suatu cara penyajian materi dakwah dengan menunjukkan dan mempertontonkan kepada mad'u agar dakwah tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Hal berbeda dengan metode infiltrasi karena bersifat umum, sedang drama lebih spesifik.
8). Metode Home Visit
Dakwah menggunakan metode ini dilakukan dengan cara kunjungan kepada sesuatu obyek tertentu dalam rangka menyampaikan isi dakwah kepada mad'u. termasuk berkunjung kerumah-rumah, menengok orang sakit, menjenguk orang yang terkena musibah, ta'ziyah dan sebagainya.[35]
d. Media Dakwah
Media dilihat dari asal katanya (etimologi), berasal dari bahasa latin yaitu "median'. yang berarti segala sesuatu dapat dijadikan sebagai alat atau perantara untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan demikian media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat untuk perantara untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Media dakwah selain berperan sebagai alat penghubung dakwah juga sebagai suatu sistem yang terdiri beberapa komponen yang saling berkaitan, bantu membantu dalam mencapai tujuan dakwah. Untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat, dakwah dapat menggunakan berbagai media. Ada beberapa jenis media dakwah, dan dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu lisan, tulisan, lukisan, audio visual, dan akhlaq
a). Lisan, inilah media dakwah yang paling sederhana yang menggunakan lidah dan suara, dakwah dengan media ini berbentuk pidato, ceramah, kuliah, bimbingan, penyuluhan, dan sebagainya.
b). Tulisan, buku majalah, surat kabar, surat menyurat (korespondensi) spanduk, flash-card, dan sebagainya.
c). Lukisan, gambar, karikatur, dan sebagainya.
d). Audio visual, yaitu alat dakwah yang merangsang indra pendengaran atau penglihatan, dan kedua-duanya, televisi, film, slide, OHP, internet, dan sebagainya.
e). Akhlak yaitu perbuatan nyata yang mencerminkan ajaran Islam dapat dinikmati serta didengarkan oleh mad'u.
f). Media (terutama media massa) telah meningkatkan intensitas kecepatan, jangkauan komunikasi dilakukan umat manusia begitu luas sebelum adanya media massa seperti pers, radio, televisi, internet, dan sebagainya. Bahkan dapat dikatakan alat- alat tersebut telah melekat tak terpisahkan dengan kehidupan manusia di abad ini.
e. Pesan dakwah
Pada dasarnya isi Al-Qur’an dan Al-Hadis merupakan kitab pedoman dan sumber hukum-hukum syariat Islam, maka ruang lingkup dakwah tidak bisa lepas dari kandungan isi keduanya.  Di dalamnya membicarakan tentang seruan untuk mengkaji alam semesta serta keimanan dan sisi kehidupan umat manusia. Sementara itu, hadis Rasulullah Saw merupakan hikmah petunjuk kebenaran. Oleh karenanya, materi dakwah Islam tidak terlepas dari kedua sumber tersebut, bahkan jika tidak berpedoman dari keduanya (Al-Qur’an dan hadis) seluruh aktivitas dakwah akan sia-sia dan dilarang oleh syari'at Islam.[36]
Adapun muatan atau pesan dakwah mencakup tiga bagian penting, yaitu masalah aqidah, syari’ah, dan akhlak.[37] Ketiga bagian tersebut dijabarkan menjadi beberapa aspek penting, meliputi:
1)              Aqidah (keimanan)
Dalam ajaram Islam, aqidah menduduki posisi yang paling pertama dalam kehidupan manusia. Aqidah adalah kepercayaan. Secara etimologi berasal dari kata al-Aqdu yang berarti yakin. Sedangkan secara termonologi, terdapat dua pengertian aqidah baik secara umum maupun khusus. ikatan, kepastian, penetapan, pengukuhan, penguncangan dengan kuat dan juga berarti hukum yang benar seperti keimanan dan ketauhidan kepada Allah. Percaya kepada Malaikat, Rasul, Kitab, Qadha dan Qadar serta hari akhir. Secara khusus aqidah bersifat keyakinan bathiniyah yang mencakup rukun iman, tapi pembahasannya tidak hanya tertuju pada masalah yang wajib diimani saja tetapi juga masalah yang dilarang oleh Islam.[38]
Secara garis besar, aqidah terbagi menjadi enam landasan yang lazim disebut Rukun Iman sebagai berikut:[39]
a)              Iman Kepada Allah SWT
Iman kepada Allah berarti menyakini akan eksistensi Allah, Kemaha Esaan-Nya, Kemaha Adilan-Nya. Iman kepada Allah ialah bersedia melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya serta bersedia menampilkan sifat-sifat keagungan yang ada pada dzat Allah dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan batas-batas kemanusiaan.
b)             Iman Kepada Malaikat
Iman kepada para malaikat ialah menyakini keberadaannya sebagai makluk Allah yang taat dan patuh kepada-Nya, serta mengimani tugas para Malaikat seperti mengawasi manusia dan sebagainya.
c)              Iman Kepada Para Rasul
Iman kepada rasul ialah meneladani jejak langkahnya terutama dalam akhlak dan keteguhan imannya dalam menegakkan kebenaran Allah.
d)             Iman Kepada Kitab-Kitab
Iman kepada kitab-kitab Allah berarti manusia harus menyakini bahwa kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi itu antara satu dengan dengan kitab yang lainnya tidak ada yang bertentangan dan bahkan saling membenarkan serta menyempurnakan.Bedanya adalah bahwa kitab-kitab Allah sebelum Al-Qur’an ditunjuk kepada bangsa-bangsa tertentu dan untuk dilaksanakan dalam kurun waktu yang telah ditentukan pula, sedangkan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW merupakan kitab terakhir untuk seluruh umat manusia yang bersifat universal dan berlaku sampai akhir zaman.
e)              Iman Kepada Hari Akhir
Iman kepada hari akhir pada dasarnya ialah menyakini bahwa pada hari kiamat itu benar-benar akan terjadi.

f)              Iman Kepada Qadha dan Qadar
Iman kepada qadha dan qadar adalah qadha artinya menentukan atau memutuskan sesuatu, qadha dan qadar disebut juga dengan takdir yaitu ketentuan Allah terhadap alam ini (termasuk manusia didalamnya) menurut ukuran atau hukum-hukum tertentu.
2)             Syariah
Secara bahasa term syariah berasal dari bahasa Arab yang berarti peraturan atau undang-undang, yaitu peraturan-peraturan mengenai tingkah laku yang mengikat, harus dipatuhi dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Adapun secara istilah, syariah diartikan sebagai hukum-hukum yang ditetapkan Allah SWT untuk mengatur manusia baik dalam hubungannya dengan Allah SWT, dengan sesama manusia, dengan alam semesta dan dengan makhluk ciptaan lainnya.[40]
Syariah ditetapkan oleh Allah untuk kaum muslimin, baik yang dimuat dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadis. Pengertian syariah mengandung dua aspek penting yang dijelaskan oleh Yusuf Al-Qardhawi yaitu: Pertama, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT (vertikal) disebut dengan ibadah, ibadah merupakan perbuatan inti yang termuat dalam rukun Islam yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu. Kedua, yang mengatur manusia dengan manusia atau alam lainnya (horizontal) disebut muamalah, muamalah merupakan aplikasi dari ibadah dalam hidup bermasyarakat.
Selanjutnya prinsip dasar utama syariah adalah menebar nilai keadilan di antara manusia, membuat hubungan yang baik antara kepentingan individual dan sosial, dan mendidik hati agar mau menerima sebuah undang-undang untuk menjadi hukum yang ditaati.[41] Selain itu, aspek syariah dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang benar, pandangan yang jernih, kejadian yang cermat terhadap hujjah atau dalil-dalil dalam melihat setiap persoalan, sehingga umat tidak perpelosok ke dalam kejelekan, sementara yang diinginkan dalam dakwah adalah kebaikan.[42]
3)             Akhlak
Akhlak adalah sesuatu perilaku yang menggambarkan seseorang, terdapat dalam jiwa yang baik, yang darinya keluar perbuatan yang mudah dan otomatis tanpa berfikir sebelumnya.[43] Pesan Akhlak meliputi akhlak terhadap Allah SWT, akhlak terhadap sesama manusia, dan akhlak terhadap sesama makhluk hidup. Akhlak merupakan sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang bertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya, sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik yang disebut sebagai akhlak mulia, atau perbuatan buruk yang disebut sebagai akhlak tercela.[44]
Ajaran akhlak dalam Islam pada dasarnya meliputi kualitas perbuatan manusia yang merupakan ekspresi dari kondisi kejiwaannya. Akhlak dalam Islam bukanlah norma ideal yang tidak dapat diimplementasikan dan bukan pula sekumpulan etika yang terlepas dari kebaikan norma sejati. Dengan demikian yang menjadi muatan akhlak dalam Islam adalah mengenai sifat dan kriteria perbuatan manusia serta berbagai kewajiban yang harus dipenuhinya. Karena semua manusia harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya, maka Islam mengajarkan kriteria perbuatan dan kewajiban yang mendatangkan kebahagiaan, bukan siksaan.[45]
Muatan akhlak dalam dakwah diorientasikan agar individu mampu menentukan baik dan buruk, sehingga akal dan qalbu berupaya untuk mampu menjalani kebiasaan masyarakat dengan normal. Melihat perkembangan zaman saat ini, maka sangat perlu adanya penanaman serta penguatan muatan akhlak dalam dakwah bagi masyarakat.
Di samping ketiga aspek di atas, Harun Nasution mengklasifikasikan isi kandungan Al-Quran ke dalam bagian-bagian besar berikut: 1) Ayat-ayat mengenai dasar-dasar keyakinan, 2) Ayat-ayat mengenai hukum yang melahirkanilmu hukum Islam (fiqh), 3) Ayat-ayat mengenai pengabdian kepada Tuhan yang membawa ketentuan-ketentuan ibadah dalam Islam, 4) Ayat-ayat mengenai budi pekerti luhur yang melahirkan etika Islam, 5) Ayat-ayat mengenai dekat dan rapatnya hubungan manusia dengan Tuhan yang kemudian melahirkan mistisisme Islam, 6) Ayat-ayat mengenai tanda-tanda dalam alam yang menunjukkan adanya Tuhan yang membicarakan soal kejadian alam di sekitar manusia. Ayat-ayat yang serupa ini menumbuhkan pemikiran filosofis dalam Islam, 7) Ayat-ayat mengenai hubungan golongan kaya dengan golongan miskin, dan ini membawa pada ajaran-ajaran sosiologis dalam Islam, 8) Ayat-ayat mengenai hubungan dengan sejarah, terutama mengenai nabi-nabi dan umat mereka sebelum Nabi Muhammad Saw, dan umat-umat lainnya yang hancur karena keangkuhan mereka. Dari ayat-ayat ini dapat diambil pelajaran.[46]
Sebagaimana Nabi Muhammad Saw dalam berdakwah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai materi inti. Beliau membawakannya dan menyampaikan pula penjelasannya. Hal ini dapat diketahui melalui firman Allah Swt dalam QS. al-Nahl (16): 44.
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.[47]
Ayat di atas menunjukkan peran Rasulullah Saw sebagai penjelas terhadap firman-firman Allah Swt dan sekaligus menunjukkan fungsi al-sunnah terhadap Al-Quran yang didefinisikan sebagai penjelas tentang maksud Allah Swt[48] karena tidak semua persoalan disebut dengan jelas dan tegas oleh Al-Quran. Dengan demikian materi dakwah itu sendiri sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Quran adalah berbentuk pernyataan maupun pesan (risalah) Al-Quran dan sunnah. Karenanya, Al-Quran dan sunnah itu sudah diyakini sebagai pedoman bagi setiap tindakan kehidupan muslim.
Dari uraian di atas, maka secara global materi dakwah itu dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal pokok, yaitu akidah, syari'ah, dan akhlak. Jadi pada hakekatnya materi (isi) dakwah tetap yaitu seluruh ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Sedangkan pengembangannya akan mencakup kultur Islam yang murni yang bersumber dari kedua sumber tersebut dengan memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat.
B. Bentuk Penyampaian Pesan Dakwah dalam Media Cetak
Materi dakwah sebagai pesan dakwah merupakan isi ajakan, anjuran dan ide gerakan dalam rangka mencapai tujuan dakwah. Sebagai isi ajakan dan ide gerakan dimaksudkan agar manusia mau menerima dan memahami serta mengikuti ajaran agama Islam benar-benar diketahui, dipahami, dihayati, dan selanjutnya diamalkan sebagai pedoman hidup dan kehidupan. Untuk merealisasikan hal tersebut dibutuhkan seorang hamba Allah yang benar-benar mau menyerahkan dirinya kepada-Nya dengan sepenuh hati dan jiwa rasa. sebagai mana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Fushilat ayat 33 :
"Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan aural yang soleh dan berkata sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. Fushilat 33).

Rasulullah SAW dalam mengembangkan dakwah Islam memanfaatkan risalah (surat menyurat) sebagai media komunikasi meskipun Nabi sendiri seorang buta huruf. Sesungguhnya demikian dakwah secara risalah tetap terlaksana berkat bantuan para sahabat nabi yang pandai menulis .dari kegiatan nabi dan para sahabat melaksanakan dakwah secara tertulis yang disampaikan kepada raja-raja menunjukkan bahwa landasan jurnalistik yang telah dikatakan beliau selaras dengan kondisi dan kemajuan umat pada waktu itu.[49]
Dakwah menggunakan media cetak mengutamakan adanya materi yang disampaikan yaitu pesan dakwah. Pesan adalah pernyataan yang didukung oleh lambang dalam bentuk bahasa, baik lisan, tulisan; dan bahasa tubuh. pesan mempunyai peranan untuk mempengaruhi massa dimana seorang komunikator menyampaikan perangsang biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata untuk mengubah tingkah laku.[50]
Dari sini diharapkan jika pesan disampaikan diterima orang lain, maka penyampaian pesan mengharapkan adanya perubahan sikap pada orang tersebut. Kemudian sebagai suatu yang lahir dalam diri manusia. Pesan merupakan suatu bentuk tetap yang penting yang digunakan, dalam ulasan teoritis, praktis, dan emperies tentang komunikasi manusia dan konsep pesan itu sendiri sangat beragam. Dalam keragaman bentuk pesan yang mengarah kepada pembahasan tentang hakekat pesan yang sebenarnya dalam suatu perspektif hakekat pesan yang terdiri dari:
1). Deskripsi
Bentuk deskripsi dalam sebuah tulisan dalam media cetak adalah sebuah bentuk penyampaian pesan tulisan yang isinya menggambarkan secara detail ataupun garis besar tentang suatu masalah, sehingga pembaca mengetahui secara utuh masalah yang dikemukakan
2). Eksplanasi
Bentuk eksplanasi dalam suatu bentuk penyampaian pesan yang menerangkan sejelas-jelasnya tentang suatu masalah sehingga pembaca memahami betul masalah yang di kemukakan.
3). Prediksi
Bentuk prediksi adalah bentuk penyampaian pesan pada sebuah media massa yang meramalkan atau berisikan ramalan atau dugaan apa yang kemungkinan terjadi pada masa yang akan datang berkaitan dengan masalah yang dikemukakan
4). Preskripsi
Bentuk preskripsi adalah bentuk penyampaian pesan yang isinya mengandung ajakan himbauan atau perintah bagi pembaca agar melakukan sesuatu. Kata-kata "Harus" seharusnya, hendaknya, seyogyanya dan semacamnya mendominasi pesan ini.[51]
Dalam pengungkapan pesan dakwah perlu diingat bahwa pesan harus dimengerti bagi penerima pesan. Untuk itu komunikator harus mengungkapkan pesan yang baik, maka komunikator dapat mengungkap maksud dari yang terluas dalam materi pesan tersebut. 
C. Media Cetak Sebagai Media Dakwah
Al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam mengandung nilai-nilai yang menyangkut segi dunia dan akhirat. Al-Qur’ansebagai risalah Islam mencakup dalam bentuk ilmu, yang mana ilmu itu sendiri akan berkembang dan menjadi hasanah apabila ada jurnalis-jurnalis Islam seharusnya mampu menjadi penerjemah dari gagasan kontemporer untuk kaum muslimin.
Sedangkan kita ketahui bersama bahwa wahyu pertama kali turun pada bulan Ramadan ketika nabi muhammad sedang berkhalwat di gua biro adalah surat al-Alaq ayat 1-5. Dengan diturunkannya ayat tersebut mengandung perintah kepada nabi dan umatnya agar sebelum menjalankan misinya (dakwah) untuk iqro' terlebih dahulu. Banyak hikmah yang terkandung dalam kata iqro' yaitu perintah membaca, menelaah, menghimpun, dan mencari-cari sesuatu.
Pada zaman manapun sesungguhnya manusia berkeyakinan bahwa informasi is opinion leader, begitulah anggapan yang kemudian dikembangkan model-model dakwah Rasululloh sesuai dengan zamannya dan kondisi khalayak sasarannya. Keberhasilan dakwah tidak semata terletak pada format dan isi, tetapi ternyata sangat penting yakni tergantung, pada metode dan media. Terlebih ketika masyarakat memasuki zaman ilmu pengetahuan (abad akal pikiran) pengaruh imperialisme media informasinya sungguh sangat nyata.
Media dakwah ini amat besar manfaatnya sebab ia termasuk dari beberapa media masa membentuk opini masyarakat ia hampir bisa sebagai makanan pokok masyarakat yang mendambakan informasi dan selalu dapat mengikuti perkembangan dunia. dakwah melalui media ini dapat berbentuk berita-berita Islam, penelitian artikel-artikel Islam dan sebagainya. Kelebihan dari media ini adalah.
1). Medium ini memberikan kesempatan untuk memilih materi-materi yang sesuai dengan kemampuannya dan kepentingannya.
2). Medium yang diwakili oleh pers ini tidaklah terikat oleh waktu dalam mencapai khalayaknya bahkan mereka secara bebas dapat melihat kembali materi yang telah dibacanya untuk mengingatkannya, atau menguatkan ingatannya
3). Media yang berbentuk tulisan ini juga dapat mengembangkan suatu topik yang diinginkan.
4). Media ini selanjutnya hidup dan berkembang dalam keadaan tidak diikat oleh standar tertentu dalam hal konten keseluruhan dibanding pada medium-medium yang lainnya. la memiliki kelebihan yang luas dan kebebasan gaya yang lebih besar dalam memenuhi selera pembaca.
5). Media yang dapat ditangkap oleh mata ini dapat memiliki prestise yang tinggi, justru karena dalam pembentukan prestise yang bersifat khusus, dapat membentuk dengan aplikasi khusus, berdasarkan kepada kebiasaan membaca yang di dalamnya tercakup perhatian dan kesenangan untuk membaca.[52]
Dengan sedikitnya waktu yang digunakan media cetak sebagai media dakwah maka media cetak dapat dianggap sebagai media dakwah, karena dengan menggunakan waktu relatif singkat. Akan tetapi mengenai keefektivitasannya media cetak masih kalah dibanding dengan dakwah dengan cara pengorganisasian, sebagaimana yang terkenal sekarang adalah dakwah fardiyah. Dalam dakwah fardiyah ini adalah seorang Da'i mengajak kepada orang lain secara perseorangan dengan tujuan memindahkan mad'u dengan tujuan merubah suatu kesadaran yang lebih baik dan diridloi Allah SWT.
Ciri khas sistem komunikasi dengan menggunakan media massa Islam penyampaian informasi kepada pembaca mengenai amar ma'ruf nahi mungkar, seperti diterangkan dalam Al-Qur’an karim surat Ali-Imron ayat 104 sebagai berikut:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung

Pada dasarnya sistem komunikasi massa Islam adalah menyebarkan (menyampaikan) informasi kepada pendengar, pemirsa atau pembaca tentang perintah dan larangan tuhan. Hal ini berarti bahwa semua proses komunikasi Islami harus terikat pada norma-norma agama Islam, semakin modern suatu masyarakat semakin kompleks pulalah sistem komunikasinya, sepertinya semakin rumitnya interaksi sosial didalamnya.[53]
Aktivitas media cetak sebagai media dakwah harus ditunjang dengan sistem teknologi yang canggih. Terlebih lagi bag: media massa Islam, karena mau tidak mau harus modern. Hal ini bisa ditunjang dengan sarana Internet, sebagaimana yang telah dilakukan majalah Ummi on line, ini prestasi yang membanggakan bagi umat Islam.
Karena itu peneliti menggunakan analisis semiotika sosial M.A.K Halliday berpendapat
“grammar dalam bahasa bukan merupakan kode,yang tidak semata-mata membangun kalimat yang benar” [54]


[1] Asep Syamsul M.Romli, Jurnalistik Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 111.
[2] "Siapa yang menguasai dunia informasi, Dialah sesungguhnya yang akan menguasai dunia," demikian pepatah ini begitu mashyur kita dengar, pepatah yang melukiskan akan besarnya kuasa media informasi (lihat: http://www.kompasiana.com/dwicahyo/kuasailah-informasi-niscaya-engkau-menguasai-dunia_5528a77af17e6126728b45a8 diakses 28 Agustus 2017 pukul 14.30 WIB)
[3] Untuk pembahasan lebih lanjut tentang dakwah dapat dibaca pada laporan penelitian Dzikron Abdillah, Kata Dakwah al-Qur’an,IAIN Walisongo Semarang (Dalam Abdul Basit, Wacana Dakwah Kontemporer, Purwokerto: STAIN Purwokerto Press, 2006, hlm.26.
[4] Hasan, Bisri, Filsafat Dakwah. (Surabaya: Dakwah Digital Press. 2010), hlm.73
[5] Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online di https://kbbi.web.id/analisis, diakses 20 September 2017
[6] Lihat di wikipedia indonesia, di https://id.wikipedia.org/wiki/Analisis, diakses 20 september 2017
[7]Departement Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), ed. 3, hlm. 43.
[8]Muhammad Munir, S.Ag, M.A., dan Wahyu Ilaihi, S.Ag, M.A., Manajemen Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), ed. 1, cet. 2, hlm. 17.
[9]Wahyu Ilaihi, M.A., op. cit., hlm. 16.
[10]Drs. AS Haris Sumadiria, M.Si., Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis Profesional, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2009), cet. 4, hlm. 3.
[11]Departemen Pendidikan Nasional, op. cit., hlm. 347.
[12] Yayun Alutfiyanto,“Analisis Pesan Dakwah Dalam “Rubrik Teladan” Majalah Ma’arif  2009.
[13] Nurul Fatimah, “Analisis Terhadap Materi Dakwah Dalam  Rubrik Tausiyah Majalah Aham, 2009.
[14] Nur Setyaningsih,“Analisis Pesan Dakwah Dalam Kolom “Nasihat” Majalah Nabila Tahun 2005”,  2007.
[15] Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, (Yogyakarta: LKIS, 2008),  hlm.111.
[16] Ibid., hlm. 112.
[17] Van Zoest mengartikan semiotika sebagai ilmu tanda dan segala yang berhubungan dengannya: cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya (Sobur, 2009:95-96). Dalam konteks ini, semiotika yang digunakan adalah semiotika sosial MAK Halliday, yakni cabang dari studi mengenai tanda yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang berwujud kata maupun lambang berwujud kalimat. Dengan kata lain semiotika sosial menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa (Sobur, 2009:101).
[18] Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014). hlm. 36
[19] Ibid., hlm. 95
[20] Cara berpikir induktif adalah cara berpikir yang berangkat dari hal-hal yang khusus (fakta empirik) menuju hal-hal yang umum (tataran konsep). (Rachmat Kriyantono, Teknik Pratis Riset Komunikasi, 2014)
[21] Amin, M. Masykur, Dakwah Islam dan Pesan Moral, (Yogyakarta: Al-Amin Press, 1997), hlm. 2
[22] Sanwar, Aminuddin, Pengantar Ilmu Studi Dakwah, (Semarang: Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, 1985), hlm. 34

[23] Kafie, Jamaluddin, Psikologi Dakwah, (Surabaya: Indah, 1993), hlm. 29
[24] Tasmara, Toto, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hlm. 31
[25] Ibid., hlm.31
[26] Ibid., hlm.32
[27] Abdullah, Dikron, Metodologi Dakwah, (Semarang: Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, 1989), hlm. 7
[28] Sakwan, Ida Saida, Membangun Dakwah Islamiyah yang Berkualitas, (Jakarta: PP. Hidmat NU, 2001), hlm. 10
[29] Jumantoro, Totok, Psikologi Dakwah Dengan Aspek-Aspek Kejiwaan Qur'ani, (Jakarta: Amzah, 2001), hlm. 18
[30] Shihab, Alwi, Islam Inklusif , (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 252
[31] Abdullah, Dikron, Metodologi Dakwah, (Semarang: Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, 1989), hlm. 17
[32] Syukir, Asmuni, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: al-Ikhlas, 1983), hlm. 54
[33] Kafie, Jamaluddin, Psikologi Dakwah, (Surabaya: Indah, 1993), hlm. 66-67

[34] Ansori, Hafi, H.M, Pemahaman dan Pengalaman Dakwah, (Pedoman untuk Mujahid Dakwah), (Surabaya: al-Ikhlas, 1993), hlm. 142-145
[35] Abdullah, Dikron, Metodologi Dakwah, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Semarang, 1989, hlm. 74-133
[36] Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Surabaya: Al Ikhlas, 1983, hlm. 63-64
[37] Ibid, hlm. 23
[38] Indriansyah Islamiyah, Universitas Islam Jakarta, Akhlak Istimayah, Jakarta: PT. Parameter, 1998, hlm. 5 
[39] Somad Z. dkk., Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, 2004, hlm. 66-77
[40] M. Abdul Mujieb, Kamus Istilah Fiqih, Jakarta: PT. Pustakaa Firdaus, 2000, hlm. 23 
[41] Saerozi, Ilmu Dakwah, Yogyakarta: Ombak, 2013, hlm. 39 
[42]  Munir, Manajemen Dakwah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006, hlm. 26 
[43] Hasan Shaleh, Studi Islam dan Pengembangan Wawasan, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000, hlm. 56 
[44] Muhammad Hasan, “Pesan-pesan Dakwah dalam Buku 7 keajaiban Rezeki Karya ippho Santosa”, IAIN Antasari, Banjarmasin, 2013, hlm. 3 
[45] M. Munir, Manajemen Dakwah, Jakarta: Prenada Media, 2006, hlm. 24 
[46] Harun Nasution, Islam Rasional; Gagasan dan Pemikiran Cet. V; Bandung: Mizan, 1998, hlm. 20
[47] Departemen Agama RI, hlm. 408
[48] M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran; Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat Cet. XIII; Bandung: Mizan, 1996, hlm. 122-123
[49] Ya'qub, Hamzah, Publistik Islam Teknik dan Leadership, (Bandung: Diponegoro, 1981), hlm. 86-98
[50] Efendi, Onong Uchayana, Dinamika Komunikasi Remaja, (Bandung: Rosda Karya, 1993), hlm.85
[51] Syamsul, Asep. M. Ramli, Jurnalistik Praktis Untuk Pemula, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm. 47-48
[52] Aziz, Ali M, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 150-151
[53] Muis, A., Komunikasi Islam, (Bandung: Remaja Rosda karya, 2001), hlm. 5
[54] http://lidahibu.com/2010/07/30/mak-halliday/ jam01.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar